Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
9 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
10 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
13 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Olympic

Jejak Purba Gunung Geureudong Picu Lubang Raksasa di Aceh Tengah, Mulai Incar Rumah Penduduk

Jejak Purba Gunung Geureudong Picu Lubang Raksasa di Aceh Tengah, Mulai Incar Rumah Penduduk
Lubang raksasa yang semakin meluas di Jalan Buter - Pondok Balik, Aceh Tengah.
Minggu, 01 Februari 2026 05:00 WIB

TAKENGON – Masyarakat di kawasan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah kini dihantui kecemasan luar biasa. Lubang raksasa yang terbentuk akibat pergerakan tanah di Jalan Buter – Pondok Balik terus meluas hingga mencapai 30.000 meter persegi, mengancam keselamatan rumah penduduk dan memutus akses transportasi utama.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, luas area yang amblas melonjak empat kali lipat. Lahan perkebunan yang menjadi tumpuan ekonomi warga satu per satu hilang tertelan bumi, menyisakan tebing curam yang tidak stabil.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Aceh, Ikhlas menjelaskan bahwa wilayah tersebut berdiri di atas "bom waktu" geologis berupa Formasi Geureudong. Material vulkanik purba ini sangat rapuh dan akan berubah menjadi beban berat yang mematikan saat diguyur hujan deras.

"Material ini bersifat lepas dan mudah menyerap air sehingga jenuh. Ketika air hujan datang, ia membebani daerah itu sendiri hingga lereng menjadi tidak stabil," ujar Ikhlas, Sabtu (31/1/2026).

Ketidakstabilan lereng ini semakin parah dipicu oleh cuaca ekstrem akhir November 2025 lalu. Akibatnya, tanah terus bergerak secara perlahan namun pasti. Kondisi ini sangat berbahaya karena karakteristik tanah di kawasan Ketol mirip dengan lokasi bencana Desa Bah dan Serempah yang sempat hilang ditelan bumi saat gempa Gayo 2013 silam.

Ikhlas menekankan pentingnya tindakan nyata sebelum korban jiwa berjatuhan. Penguatan tebing dan pengalihan jalur air (drainase) menjadi kebutuhan mendesak agar air tidak terus-menerus mengikis lapisan tanah yang rentan.

"Tanah ini sangat rentan terhadap air. Begitu hujan deras, banyak yang terimbas longsor. Oleh karena itu, pemerintah punya zona kerentanan gerakan tanah sebagai peringatan," tambahnya.

Hingga saat ini, sebagian badan jalan telah hancur total dan infrastruktur vital seperti tower listrik terpaksa dipindahkan guna menghindari amblasan susulan. Warga diharapkan tetap waspada, terutama saat intensitas hujan meningkat di wilayah pegunungan tersebut.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Olympic, Nasional, Aceh
wwwwww