Perak Mulai Keluar dari Bayang-Bayang Emas, Harga Antam Merangkak Naik
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA – Logam perak mulai menunjukkan taringnya di awal tahun 2026. Sering dijuluki sebagai "Robin" bagi sang "Batman" emas, perak kini mencoba mandiri dengan tren kenaikan harga yang mulai melampaui emas dalam hal apresiasi nilai bersih.
Berdasarkan data terbaru dari laman resmi logammulia.com, harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan Kamis (12/2/2026) merangkak naik sebesar Rp 200, membawa harganya ke posisi Rp 51.050 per gram. Kenaikan tipis di pasar domestik ini berbanding lurus dengan volatilitas ekstrem yang terjadi di pasar spot global.
Antam saat ini menyediakan perak dalam bentuk batangan ukuran 250 gram seharga Rp 13.287.500 dan ukuran 500 gram pada angka Rp 25.650.000. Perlu dicatat, harga tersebut belum termasuk PPN.
Sentimen Global: Antara Kebijakan Trump dan Fed
Analis JP Morgan Global Research mengungkapkan bahwa pergerakan perak tahun ini sangat dipengaruhi oleh drama politik di Amerika Serikat. Harga perak sempat pulih setelah Presiden Trump menunda pemberlakuan tarif baru pada mineral penting pertengahan Januari lalu. Namun, pasar kembali terguncang ketika nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Fed diumumkan, yang sempat membuat harga perak anjlok hingga 27% sebelum akhirnya mencoba bangkit.
Head of Base and Precious Metals Strategy JP Morgan, Gregory Shearer, melihat perak berada di persimpangan jalan. Sebagai logam yang 60% permintaannya datang dari sektor industri (seperti panel surya), perak menghadapi risiko "substitusi".
"Dalam jangka panjang, risiko terbesar yang kami lihat berasal dari adopsi teknologi bebas perak. Lonjakan harga kemungkinan memicu produsen mencari cara menekan jumlah perak dalam produk mereka," jelas Shearer, Kamis (12/2/2026).
Prediksi 2026: Batas Atas yang Masih Misterius
Meski JP Morgan memproyeksikan harga rata-rata perak berada di level USD 81 per ounce sepanjang 2026—dengan potensi puncak USD 85 di kuartal keempat—para analis tetap berhati-hati. Tidak seperti emas yang didukung oleh pembelian bank sentral dunia sebagai aset cadangan, perak lebih bergantung pada permintaan investasi ritel dan industri.
Kini, mata investor tertuju pada permintaan dari Tiongkok dan India. Dua raksasa ini dianggap sebagai katalis utama yang akan menentukan apakah perak akan tetap menjadi "pendamping setia" emas atau benar-benar mampu menciptakan standarnya sendiri di tengah gejolak ekonomi dunia.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | KONI, DKI Jakarta |













