Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
22 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
6 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
5 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
6 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
5 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Automotif

Rekan Indonesia Tolak Wacana Kenaikan Iuran BPJS Kesehan

Rekan Indonesia Tolak Wacana Kenaikan Iuran BPJS Kesehan
Ketua Umum Relawan Kesehatan Indonesia, Agung Nugroho. (Ist)
Rabu, 25 Februari 2026 07:43 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA-Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia kembali menyoroti rencana 
kenaikan iuran BPJS Kesehatan sebagai kebijakan tidak tepat saat ini karena berpotensi memperlemah daya jangkau sistem jaminan kesehatan nasional jika tidak disertai reformasi struktural.

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho mengatakan, penyesuaian iuran harus dikaji secara komprehensif karena menyangkut daya beli dan stabilitas sosial, terutama bagi kelompok kelas menengah.

 
"Dalam ekonomi kesehatan, ada konsep price elasticity of demand. Ketika biaya meningkat, partisipasi bisa menurun, terutama pada kelompok dengan pendapatan terbatas. Peserta mandiri sangat sensitif terhadap kenaikan iuran rutin," kata Agung dalam pernyataannya, Selasa (25/2/2026).
 
Agung menjelaskan, kelompok miskin relatif terlindungi oleh skema Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara kelompok berpenghasilan tinggi cenderung mampu menyerap kenaikan biaya. Namun, pada kelas menengah, khususnya pekerja sektor informal dan keluarga dengan pengeluaran tetap yang ketat berada dalam posisi rentan.
 
"Jika iuran naik, banyak keluarga akan melakukan penyesuaian pengeluaran. Risiko yang muncul adalah meningkatnya tunggakan dan kepesertaan nonaktif. Pada akhirnya, mereka bisa kehilangan jaminan kesehatan saat justru paling dibutuhkan," tegasnya.
 
Agung menambahkan, secara aktuaria kebijakan tersebut juga berpotensi memicu fenomena adverse selection. Jika peserta sehat memilih keluar karena beban biaya meningkat, sementara peserta dengan risiko kesehatan tinggi tetap bertahan, maka keseimbangan pembiayaan dapat terganggu.
 
"Komposisi risiko menjadi tidak seimbang. Beban klaim meningkat, tekanan fiskal bertambah. Ini bisa menjadi siklus yang berulang," bebernya.
 
Ia menuturkan, Rekan Indonesia mendorong pemerintah menempuh langkah alternatif, antara lain peningkatan efisiensi tata kelola, penguatan basis data penerima subsidi, serta skema pembiayaan yang lebih progresif berdasarkan kemampuan bayar.
 
"Kebijakan jaminan kesehatan seharusnya memperluas perlindungan sosial. Kenaikan iuran tanpa pembenahan menyeluruh berpotensi justru mempersempit cakupan," pungkas Agung. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Automotif, DKI Jakarta
wwwwww