Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
16 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
16 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
17 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
18 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
17 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
9 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Home  /  Berita  /  Voli

Staf Khusus KASAD Peringatkan Ancaman Geopolitik Global: Indonesia Harus Perkuat 'Imunitas Bangsa'

Staf Khusus KASAD Peringatkan Ancaman Geopolitik Global: Indonesia Harus Perkuat Imunitas Bangsa
Staf Khusus KASAD, I Nyoman Cantisa. (Ist)
Senin, 16 Maret 2026 16:00 WIB
Penulis: Bimo Putro Prihandoko

JAKARTA - Dinamika geopolitik dunia yang semakin tidak menentu dinilai menjadi tantangan serius bagi stabilitas nasional. Makanya, Staf Khusus KASAD, Letjen I Nyoman Cantiasa mengingatkan bahwa Indonesia perlu memperkuat kewaspadaan nasional di tengah konflik global yang kian kompleks dan cepat berubah.

Menurutnya, kewaspadaan nasional menjadi fondasi penting bagi negara untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman yang dapat muncul kapan saja.

“Kewaspadaan nasional menuntut kesiapan negara untuk mampu mendeteksi, mengantisipasi, dan mencegah berbagai potensi ancaman sejak dini,” ujar Nyoman dalam rilisnya, Senin (16/3/2026).

Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2023-2024 itu menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global saat ini telah bergeser dari fase stabil menuju kondisi volatilitas tinggi.

Pergeseran tersebut berdampak langsung terhadap berbagai sektor, termasuk ekonomi dan keamanan nasional Indonesia.

Salah satu contoh yang disorot adalah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menurutnya, konflik tersebut memiliki efek domino terhadap stabilitas ekonomi global. Gangguan terhadap jalur pelayaran internasional serta perubahan rute kapal dagang memaksa banyak operator pelayaran mengalihkan jalur ke sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Akibatnya, waktu tempuh pengiriman bertambah hingga sekitar 14 hari.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman (shipping cost), mengganggu rantai pasok global, serta memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada perekonomian nasional.

Kewaspadaan Nasional sebagai “Imunitas Bangsa”

Dalam pandangan Nyoman, kewaspadaan nasional dapat berfungsi sebagai “imunitas bangsa” untuk menjaga stabilitas negara dari berbagai tekanan eksternal.

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif melalui beberapa langkah strategis, seperti meningkatkan sense of crisis, sense of urgency, memperkuat intelijen, meningkatkan diplomasi, serta melakukan penyaringan informasi secara cermat.

Selain itu, sinergi antar lembaga negara juga dinilai menjadi kunci dalam menghadapi dinamika ancaman global yang semakin kompleks.

Lebih jauh, Nyoman menilai Indonesia tidak dapat lagi hanya mengandalkan pendekatan diplomasi tradisional “bebas aktif” tanpa strategi yang lebih adaptif terhadap perubahan global.

Menurut mantan Komando Pasukan Khusus tersebut, Indonesia perlu mengambil posisi sebagai kekuatan penyeimbang melalui konsep netralitas aktif yang memiliki daya tawar dalam percaturan geopolitik dunia.

Dengan posisi geografis yang strategis serta kekayaan sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi besar untuk memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan.

Belajar dari Krisis Sri Lanka

Dalam ceramahnya, Nyoman juga menyinggung pengalaman Sri Lanka yang mengalami krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik beberapa waktu lalu.

Ia menilai kegagalan dalam mengintegrasikan instrumen kewaspadaan nasional dapat membuka peluang bagi intervensi kepentingan asing. “Pertanyaannya, apa refleksi yang bisa kita ambil untuk Indonesia?” ujarnya

Sebagai penutup, Nyoman menawarkan pendekatan strategis untuk memperkuat ketahanan negara melalui konsep DIME (Diplomacy, Intelligence, Military, Economy).

Menurutnya, sinergi empat instrumen tersebut dapat menjadi fondasi bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan geopolitik global sekaligus menjaga kedaulatan nasional. “Kewaspadaan nasional harus menjadi sistem peringatan dini agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi konflik internal,” pungkasnya. ***

Editor:Azhari Nasution
Kategori:Nasional, Voli, DKI Jakarta
wwwwww