Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
12 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
18 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
6 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
7 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
11 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Nasional

Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, WTI Nyaris Sentuh 100 Dolar AS

Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, WTI Nyaris Sentuh 100 Dolar AS
Ilustrasi (net)
Sabtu, 28 Maret 2026 08:18 WIB

JAKARTA – Pasar energi dunia kini dalam kondisi siaga satu setelah harga minyak mentah melonjak tajam akibat konflik Timur Tengah yang kian memanas. Kekhawatiran akan terputusnya pasokan global melalui jalur vital Selat Hormuz memaksa investor bersiap menghadapi kemungkinan krisis energi yang lebih panjang.

Mengutip data Reuters, Sabtu (28/3/2026), harga minyak mentah Brent meroket 4,22 persen hingga menyentuh angka 112,57 Dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Jumat. Tak ketinggalan, minyak mentah Amerika Serikat (WTI) juga melambung 5,4 persen ke level 99,64 Dolar AS, hampir menembus angka psikologis 100 Dolar AS.

Penyumbatan arus lalu lintas di Selat Hormuz oleh Iran menjadi faktor utama kegelisahan pasar. Pasalnya, kawasan ini merupakan urat nadi energi dunia yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global.

Analis pasar modal menilai, gangguan yang berlarut-larut di jalur tersebut akan memberikan hantaman keras bagi ekonomi dunia. Biaya transportasi dan produksi yang membengkak diprediksi memicu lonjakan inflasi yang berujung pada merosotnya daya beli masyarakat secara luas.

"Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global," ungkap laporan pasar yang mencatat menurunnya kepercayaan konsumen di Amerika Serikat.

Meski Presiden AS, Donald Trump, telah menyatakan perpanjangan tenggat negosiasi dengan Iran, langkah diplomasi tersebut dinilai belum cukup ampuh menenangkan gejolak pasar. Para pelaku pasar menuntut tindakan nyata agar jalur distribusi energi internasional kembali terbuka tanpa hambatan.

Situasi yang tidak menentu ini juga mengubah peta investasi global. Seiring menguatnya aset aman seperti emas, para investor kini mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve guna meredam laju inflasi yang dipicu oleh "gila-gilaan" harga minyak ini.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Nasional, Ekonomi, Basket, DKI Jakarta
wwwwww