Tragedi Kapal Pesiar Kembali Ingatkan Pentingnya Waspada Ancaman Infeksi Tikus
![]() |
| Perkembangan terbaru wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menunjukkan proses evakuasi pasien mulai dilakukan pada Rabu (6/5/2026). Saat dibawa ke ambulans, pasien sudah dibekali dengan baju tertutup rapat. |
JAKARTA - Kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi Hantavirus sempat memicu kekhawatiran masyarakat luas. Proses evakuasi para korban beserta pasien lainnya telah dilakukan perlahan dengan protokol ketat sejak Rabu (6/5/2026). Meskipun menelan korban jiwa, World Health Organization (WHO) memastikan insiden tersebut bukanlah tanda kemunculan pandemi baru, serta menetapkan risiko kesehatan publik secara umum masih sangat rendah.
Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyebutkan karakteristik penularan virus dari kapal pesiar ini sangat jauh berbeda dengan penyebaran Covid-19 yang sempat melumpuhkan dunia beberapa waktu silam.
"Secara umum penularan Hantavirus itu berbeda jauh dengan Covid-19, tidak semudah Covid-19," urainya, Sabtu (9/5/2026).
Dicky menjabarkan sebuah wabah harus memenuhi tiga kriteria utama untuk dapat berstatus pandemi. Syarat pertama, patogen tersebut harus benar-benar baru bagi sistem imun manusia. Kenyataannya, Hantavirus sudah teridentifikasi sejak tahun 1976 dari tikus sawah di kawasan Sungai Hantan, Korea Selatan. Tragedi yang sempat menghebohkan dunia justru terjadi di kawasan Four Corners, Amerika Serikat tahun 1993, saat varian Sin Nomere Virus (SNV) dari tikus deer mice membunuh hampir separuh korbannya.
Syarat kedua adalah belum tersedianya vaksin pelindung, yang memang terpenuhi oleh virus ini. Namun, syarat ketiga yakni penularan antarmanusia yang efektif sama sekali tidak terjadi. Dari 40 jenis yang terdeteksi, hanya 22 yang memicu penyakit.
"Alhamdulillah, memang belum memenuhi kriteria yang paling penting ini, meskipun ada strain Andes dari Hantavirus ini, yang bisa menyebabkan penularan antar manusia tapi relatif terbatas," paparnya.
Dunia internasional hingga saat ini belum mengkategorikan wabah tersebut sebagai ancaman serius. Oleh sebab itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso menyarankan masyarakat tidak perlu meresponsnya dengan kecemasan berlebih.
"Ini biasanya menularnya dari rodent ya, dari tikus. Dan penularan antar manusia itu hanya bisa terjadi melalui kontak erat yang berkepanjangan," jelasnya, Jumat (8/5/2026).
Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi benteng pertahanan utama dan taktik paling efektif mengatasi ancaman ini. Mencuci tangan, menjaga sanitasi rumah agar tidak menjadi sarang tikus, menutup rapat persediaan makanan, serta memakai sarung tangan pelindung saat membersihkan gudang sangat direkomendasikan. Kewaspadaan ekstra patut diterapkan masyarakat di negara berpopulasi rodensia tinggi, memiliki siklus banjir musiman, bersanitasi perkotaan yang belum sempurna, serta padat area pelabuhan maupun pergudangan seperti Indonesia.
"Kelompok yang lebih rentan antara lain adalah petugas kebersihan, tukang sampah gitu ya, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, masyarakat di area banjir dan orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup kotor dengan infestasi tikus," kata Dicky.
Tingkat fatalitas penyakit ini dapat menyentuh angka 40 persen apabila diagnosis terlambat dilakukan. Bahaya fatal penyakit ini bukan sekadar karena infeksi virusnya, melainkan besarnya respons peradangan hebat yang memicu kerusakan pembuluh darah, kebocoran cairan, dan gagal napas akut dalam waktu amat singkat.
Pasien awalnya hanya merasakan keluhan ringan seperti demam, nyeri otot, lemas, dan mual. Hanya dalam hitungan hari, kondisi penderita dapat memburuk pesat menjadi sesak napas berat, paru-paru terendam cairan, penurunan oksigen drastis, hingga syok alias Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Masyarakat yang mengalami gejala ini, utamanya setelah membersihkan lingkungan kotor pascabanjir, diminta segera memeriksakan diri ke dokter.
Pakar Infeksi Penyakit Tropik sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada menerangkan gangguan pernapasan mematikan biasanya dipicu varian SNV dan Andes (ANDV). Tikus berjenis Long-tailed Pygmy Rice Rat asal wilayah Amerika Selatan diketahui menjadi spesies pembawa strain Andes tersebut.
Di belahan benua lain, infeksi jenis Hantaan Virus (HTNV), Seoul Virus (SEOV), Puumala Virus (PUUV), dan Dobrava-Belgrade Virus (DOBV) lebih memicu sindrom demam berdarah beserta gangguan ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Hantaan Virus banyak menyebar lewat tikus striped field mouse di kawasan Asia Timur seperti China dan Korea. Penularan lewat brown rats sukses membuat varian Seoul menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Sementara itu, varian Puumala yang dibawa oleh tikus Bank Vole memicu infeksi HFRS yang lebih ringan bernama nephropathia epidemica di daratan Eropa. Spesies tikus lainnya, yellow-necked mice, kerap membawa Dobrava-Belgrade Virus yang menjadi penyebab HFRS berat bagi warga Eropa maupun Asia.
"Yang di Eropa dan Asia itu seringkali adalah demam perdarahan, yang akhirnya nanti menjadi HFRS. Di Eropa-Asia ini kita belum menemukan penularan dari orang ke orang. Semuanya dari tikus," ungkapnya.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sesungguhnya telah mendeteksi penyebaran penyakit tikus ini di Tanah Air sejak 2015 silam. Khusus sepanjang tahun 2024 hingga 2026, tercatat 23 kasus terkonfirmasi positif Hantavirus varian Seoul yang tersebar di sembilan provinsi. DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat temuan tertinggi masing-masing enam pasien, lalu disusul Jawa Barat dengan lima kasus. Kasus lainnya tersebar tipis, yakni masing-masing satu penderita di Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, serta Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dominicus menegaskan varian ganas dari gen Andes sejauh ini belum pernah ditemukan berkeliaran di wilayah nusantara.
"Jadi kita belum pernah menemukan virus Andes nya di Indonesia. Jadi di Indonesia itu penularannya murni terjadi dari tikus," tambahnya.***













