Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga Diprediksi Melonjak Imbas Tingginya Bunga Simpanan
![]() |
| Ilustrasi. (foto: kontantv) |
JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia mengerek BI Rate menjadi 5,25 persen membawa konsekuensi langsung pada penyaluran kredit ke masyarakat. Perbankan diperkirakan akan lebih menahan diri akibat peningkatan biaya dana atau cost of fund di tengah tekanan ekonomi global.
Kepala Pusat Makroekonomi INDEF M Rizal Taufikurahman memproyeksikan perlambatan kredit akan sangat terasa di sektor properti, otomotif, dan konsumsi. Kondisi pelemahan rupiah memaksa lembaga keuangan menghindari risiko tinggi.
"Dalam situasi global yang masih penuh tekanan dan rupiah melemah, bank diprediksi lebih selektif menyalurkan kredit ke sektor berisiko rendah," kata Rizal, Rabu (20/5/2026).
Ia menyoroti rapor pertumbuhan pembiayaan bulan April 2026 yang menyentuh 9,98 persen secara year on year sesungguhnya ditopang oleh bank BUMN yang menggarap proyek hilirisasi dan ketahanan energi. Mayoritas pembiayaan terserap untuk investasi yang melesat 19,48 persen, jauh meninggalkan kredit modal kerja di level 6,04 persen.
Penyaluran kredit diprediksi makin berat karena bank kecil terancam penurunan net interest margin. Sebaliknya, masyarakat diproyeksikan lebih memilih menabung karena suku bunga simpanan ikut naik.
Global Markets Economist Maybank Myrdal Gunarto menakar pertumbuhan Dana Pihak Ketiga bisa melompat hingga 14,2 persen, berbanding terbalik dengan kredit yang diramal merosot ke angka 8,94 persen.
"Pertumbuhan kredit kemungkinan tetap ditopang bank-bank besar," ungkapnya.
Guna mencegah penyaluran kredit makin seret, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan pihaknya akan menjaga likuiditas pasar uang. Bank sentral menyiapkan tambahan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial sebesar 0,5 persen dari DPK yang akan berjalan 1 Agustus 2026. Hingga Mei 2026, realisasi insentif ini sudah mencapai Rp424,7 triliun.
Sekretaris Perusahaan Bank Tabungan Negara Ramon Armando menyebut institusinya telah menyusun berbagai skenario khusus, termasuk menggelar stress test guna menahan hantaman kenaikan suku bunga. ***| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kontan.co.id |
| Kategori | : | Ekonomi, KONI, DKI Jakarta |












