Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
15 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
2
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
24 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
3
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
7 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
4
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
9 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
5
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
3 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
9 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Beladiri

Modus Manipulasi Harga Ekspor ke AS Dibongkar Menkeu Purbaya

Modus Manipulasi Harga Ekspor ke AS Dibongkar Menkeu Purbaya
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Kamis, 21 Mei 2026 14:47 WIB

JAKARTA - Laporan berisi 10 perusahaan besar pelaku manipulasi faktur perdagangan ekspor atau under invoicing disiapkan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Data tersebut dibawa langsung saat menemui Presiden, Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).

Purbaya tiba siang hari untuk memenuhi undangan makan siang bersama beberapa menteri lain.

"Diundang makan siang, Pak Menteri kelihatannya ya," kata Purbaya.

Langkah membawa dokumen investigasi ini dilakukan sebagai bentuk kesiapan jika Kepala Negara meminta laporan perbaikan ekonomi nasional secara mendadak.

"Jaga-jaga kalau ditanya, jangan sampai enggak bisa," tambahnya.

Perusahaan yang masuk pantauan pemerintah seluruhnya bergerak di industri kelapa sawit atau crude palm oil. Berdasarkan hasil uji petik (check sound) acak atas tiga pengapalan, korporasi tersebut terbukti mengecilkan nilai ekspor ke Amerika Serikat.

"Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat. Cukup signifikan tuh ya," paparnya.

Dampak dari selisih harga ini memukul langsung potensi penerimaan pajak dan devisa.

"Jadi harganya di sini berapa, itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan. Di sini kita rugi banyak," jelasnya.

Purbaya mengungkap salah satu contoh perusahaan yang melaporkan ekspor senilai 2,6 juta dolar AS, sementara pembeli di AS membayar hingga 4,2 juta dolar AS. Kasus lebih parah ditemukan pada korporasi lain yang melaporkan nilai 1,44 juta dolar AS dengan angka riil mencapai 4 juta dolar AS.

"Kita mau deteksi kapal per kapal, jadi itu yang saya laporkan kalau ditanya," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Ekonomi, Beladiri, DKI Jakarta
wwwwww