28 Tahun Reformasi, KOMRAD 98: Kesejahteraan Rakyat Masih Jadi PR Besar
![]() |
| Konferensi pers peringatan 28 tahun Reformasi yang digelar KOMRAD 98. (Ist). |
Kamis, 21 Mei 2026 13:04 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Peringatan 28 tahun Reformasi 1998 dinilai menjadi momentum refleksi terhadap perjalanan demokrasi Indonesia. Juru Bicara KOMRAD 98, Asep Nurdin menyebut, Reformasi telah berhasil memperluas ruang demokrasi dan kebebasan sipil, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat.
Asep menilai, capaian Reformasi selama hampir tiga dekade patut diapresiasi karena berhasil mengakhiri sistem otoritarianisme Orde Baru dan membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas. Namun, di sisi lain, konsentrasi kekuasaan ekonomi dan politik pada kelompok elite dinilai masih menjadi tantangan besar.
"Demokrasi memang tumbuh, tetapi ketimpangan ekonomi, konflik agraria, lemahnya perlindungan buruh, hingga persoalan HAM masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa," kata Asep dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, tantangan Indonesia saat ini tidak lagi hanya sebatas menjaga demokrasi prosedural melalui pemilu dan sistem politik formal, melainkan memastikan demokrasi dapat menghadirkan kesejahteraan masyarakat, perlindungan hak rakyat, serta pemerataan pembangunan.
Asep menekankan, pentingnya evaluasi terhadap pejabat dan institusi negara yang dianggap belum optimal menjalankan agenda kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, lembaga yang berhubungan dengan pelayanan publik, perlindungan hak asasi manusia (HAM), demokrasi, dan fungsi pengawasan sosial dinilai perlu diperkuat agar Reformasi tetap berjalan sesuai tujuan awal.
Di sektor ekonomi, KOMRAD 98 menilai pertumbuhan nasional belum sepenuhnya dirasakan kelompok masyarakat bawah. Buruh, petani, nelayan, hingga pekerja informal disebut masih menghadapi ketidakpastian hidup akibat rendahnya perlindungan sosial, tingginya biaya hidup, serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Pembangunan tidak boleh hanya mengejar investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus diukur dari kualitas hidup rakyat," ucap Asep.
Selain isu ekonomi, KOMRAD 98 juga menyoroti sejumlah tantangan lain yang dinilai masih membayangi perjalanan Reformasi, seperti polarisasi sosial, intoleransi, maraknya disinformasi digital, lemahnya penegakan hukum, hingga belum tuntasnya penyelesaian sejumlah kasus pelanggaran HAM.
Asep menegaskan, Reformasi tidak boleh kehilangan arah dan harus tetap berpijak pada cita-cita keadilan sosial, demokrasi, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
"Indonesia tidak boleh kehilangan persatuan, akal sehat, dan keberpihakannya kepada rakyat kecil," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | PON |













