Go Public, Kopi Warga Binaan Rutan Depok Laris di CFD
![]() |
| Stand Kopi Krabu Indonesia hasil karya warga binaan Rutan Kelas I Depok. (Ist) |
Penulis: Bimo Putro Prihandoko
Langkah ini menjadi upaya menguji sejauh mana produk hasil pembinaan mampu diterima masyarakat sekaligus membuka ruang interaksi antara warga binaan dan publik melalui karya yang dihasilkan.
Kehadiran stan Rutan Depok menjadi bagian dari kolaborasi bersama Kantor Imigrasi Depok yang menggelar program PASPORIA (Paspor Minggu Ceria) di lokasi CFD.
Sejak pagi, pengunjung terlihat memadati area pameran produk warga binaan. Kopi Krabu menjadi salah satu produk yang paling banyak menarik perhatian.
Sejumlah warga terlihat mencicipi kopi tersebut dan berdiskusi mengenai proses produksinya.
Selain kopi, berbagai produk kerajinan tangan hasil pelatihan keterampilan warga binaan turut dipamerkan.
Produk tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan di dalam rutan.
Kepala Rutan Kelas I Depok, Agung Nurbani, mengatakan kegiatan ini sengaja dilakukan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak berhenti pada aspek pembinaan perilaku, tetapi juga menciptakan kemampuan produktif.
"Kami ingin masyarakat melihat bahwa warga binaan memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya yang bernilai.
Produk-produk ini merupakan hasil dari proses pembinaan, pelatihan, dan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan di dalam rutan," kata Agung Nurbani.
Menurut Agung, keterampilan yang diberikan kepada warga binaan diarahkan agar dapat menjadi bekal ekonomi ketika mereka kembali ke masyarakat.
Rutan Depok menilai salah satu tantangan terbesar dalam proses reintegrasi sosial adalah stigma yang masih melekat terhadap mantan warga binaan.
Karena itu, memperkenalkan hasil karya warga binaan secara langsung kepada masyarakat dianggap menjadi bagian penting dari proses membangun kepercayaan publik.
"Kami berharap masyarakat tidak hanya melihat masa lalu seseorang, tetapi juga melihat proses perubahan dan kemampuan yang berhasil dibangun selama menjalani pembinaan. Itulah tujuan utama kegiatan ini," ujar Agung.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari keamanan lembaga, tetapi juga dari kemampuan warga binaan untuk kembali hidup mandiri dan produktif setelah bebas.
Berbeda dengan pameran internal, CFD menjadi ruang terbuka yang mempertemukan produk warga binaan dengan masyarakat secara langsung.
Respon positif pengunjung terhadap Kopi Krabu dan berbagai produk kerajinan menjadi indikator bahwa hasil pembinaan memiliki peluang untuk berkembang lebih luas.
Bagi Rutan Depok, kegiatan tersebut bukan sekadar promosi produk, melainkan bagian dari upaya membuktikan bahwa pembinaan dapat menghasilkan karya yang diterima pasar sekaligus membuka jalan bagi warga binaan untuk mendapatkan kesempatan kedua ketika kembali ke tengah masyarakat. ***
| Editor | : | Azhari Nasution |
| Kategori | : | PON, Ekonomi, Jawa Barat |













