Pramono Minta JKF Digelar Lebih Sering untuk Genjot Ekonomi Jakarta
![]() |
| Konferensi pers JKF 2026 di Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta. |
Jum'at, 19 Juni 2026 12:24 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 pada 4-5 Juli mendatang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menilai, ekonomi kreatif menjadi mesin baru pertumbuhan yang dapat memperkuat perekonomian dan daya saing Jakarta sebagai kota global.
"Banyak forum internasional yang saya hadiri menyampaikan hal yang sama, bahwa ekonomi kreatif akan mengubah wajah sebuah kota maupun provinsi. Di dalamnya ada ekonomi digital dan artificial intelligence (AI) yang saat ini menjadi faktor utama perubahan," kata Pram saat konferensi pers JKF 2026 di Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Pusat.
Pram mengapresiasi kolaborasi antara Pemprov DKI, BI, OJK, pelaku usaha, dan komunitas ekonomi kreatif yang dinilai mampu memberikan dampak nyata bagi perkembangan Jakarta. Menurutnya, kegiatan seperti JKF sebaiknya tidak hanya digelar setahun sekali.
"Kalau bisa kegiatan seperti ini jangan setahun sekali. Semakin sering semakin baik karena akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi Jakarta," ujarnya.
Ia menyoroti, meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Jakarta sebagai destinasi penyelenggaraan berbagai acara berskala global. Salah satunya terlihat dari bertambahnya jadwal konser grup musik asal Korea Selatan BTS yang akan digelar di Jakarta pada akhir tahun ini.
Menurut Pram, kehadiran panggung-panggung dunia di Jakarta memberikan dampak ekonomi yang signifikan karena mendorong aktivitas sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga usaha mikro dan ekonomi kreatif lainnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengungkapkan, perekonomian Jakarta pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,59 persen, meningkat dibanding periode sebelumnya yang mencapai 4,95 persen.
Ia menjelaskan Jakarta masih menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional dengan sumbangan sebesar 16,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
"Sebagian besar pertumbuhan ekonomi Jakarta ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 3,32 persen dan investasi sebesar 1,68 persen. Karena itu momentum pertumbuhan ini harus terus dijaga," ungkap Iwan.
Berdasarkan hasil kajian BI, sektor ekonomi kreatif menjadi "new engine of growth" atau mesin baru pertumbuhan ekonomi Jakarta. Dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang ada, BI menilai industri musik dan film memiliki potensi besar karena mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor lainnya.
"Film dan musik bukan hanya hiburan. Dampaknya sangat besar terhadap pariwisata, fashion, kuliner, serta mampu membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi generasi muda," jelasnya.
Iwan menambahkan, JKF 2026 dirancang lebih inklusif dan kolaboratif dengan melibatkan pemerintah, perbankan, OJK, pelaku industri, komunitas kreatif, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Penyelenggaraan JKF tahun ini juga sengaja ditempatkan setelah perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta dan Jakarta Fair untuk menjaga momentum konsumsi masyarakat pada kuartal III 2026.
Selain menghadirkan berbagai kegiatan ekonomi kreatif, JKF 2026 akan menitikberatkan pada subsektor olahraga, musik, dan film. Antusiasme masyarakat terhadap sektor kreatif juga terlihat dari tingginya partisipasi dalam kompetisi film pendek yang menjadi bagian dari festival tersebut.
"Untuk kompetisi film pendek saja, dalam waktu dua bulan sudah ada 242 karya yang masuk. Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap industri kreatif sangat besar," tutur Iwan.
Di kesempatan yang sama, Kepala OJK Jabodebek, Edwin Nurhadi menegaskan, pihaknya siap mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui perluasan akses pembiayaan dan penguatan ekosistem industri kreatif di Jakarta.
Menurut Edwin, ekonomi kreatif merupakan sektor strategis yang dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Jakarta karena tidak memiliki ketergantungan pada komoditas unggulan seperti daerah lain.
"Ekonomi kreatif adalah game changer bagi Jakarta. Karena itu kami siap berkolaborasi dengan BI, Pemprov DKI, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sektor ini," bebernya.
OJK, lanjut Edwin, telah mengembangkan berbagai program ekonomi kreatif melalui sektor kuliner, kriya, fashion, hingga industri konten dan film. Ke depan, tantangan utama yang akan menjadi perhatian adalah penyediaan skema pembiayaan yang lebih optimal bagi industri film dan subsektor kreatif lainnya.
"Kami siap memfasilitasi pembiayaan agar industri kreatif, khususnya film, dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian Jakarta," tegasnya.
Melalui penyelenggaraan JKF 2026, BI, OJK, dan Pemprov DKI berharap ekonomi kreatif dapat menjadi pendorong utama terwujudnya visi Jakarta sebagai kota global dan kota sinema dunia, sekaligus menjaga laju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi yang semakin dinamis. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, Ekonomi, DKI Jakarta |













