Kalahkan Skor China Ketahanan Energi Indonesia Sentuh 77 Persen
![]() |
| Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa |
JAKARTA – Stabilitas ekonomi makro Indonesia yang solid kembali mendapat sorotan positif di ranah internasional. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mempresentasikan ketahanan mesin ekonomi domestik kepada kalangan akademisi Nankai University, Tianjin, China, Minggu (21/6/2026).
Acara dialog akademik ini disaksikan langsung oleh para petinggi kampus. Rektor Nankai University, President Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif, Chen Jun, Wakil Rektor, Sheng Bin, serta Profesor Xingmin Li hadir bersama ratusan mahasiswa setempat.
"Kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok," ujar Purbaya.
Bukti Ketangguhan di Tengah Gejolak Global
Manajemen makroekonomi Indonesia terbukti kredibel dengan torehan pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 sebesar 5,61% secara tahunan. Capaian ini melesat meninggalkan performa rata-rata negara G20 dan tetangga di ASEAN. Kinerja tersebut semakin lengkap dengan inflasi per Mei 2026 yang terkendali ketat di posisi 3,08%.
"Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61% yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08%. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel," terang Purbaya.
Bauran Kebijakan Fiskal Prudent
Penahan guncangan (buffer) Indonesia juga sangat kuat. Skor ketahanan energi global Indonesia mencapai 77%, lebih tinggi dari tuan rumah China yang mendapat skor 76%, dan menempel ketat Afrika Selatan di posisi 79%. Defisit anggaran pun konsisten dikelola di bawah 3%.
Kesehatan ekonomi riil turut dibuktikan lewat rentetan indikator positif:
- PMI Manufaktur kokoh di batas ekspansif 50,0.
- Likuiditas perekonomian (M0) tumbuh 14,8% yoy.
- Penyaluran kredit perbankan naik 11,5% yoy.
- Neraca perdagangan mencetak surplus selama 72 bulan berturut-turut.
- Bantalan devisa menggemuk hingga USD 144,9 miliar, atau sanggup membiayai 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Fokus pada Kesejahteraan Inklusif
Imbas positif makroekonomi ini sukses menyerap tenaga kerja baru sebanyak 1,9 juta orang. Hal ini menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di tahun 2026 menjadi 4,68%. Perlindungan sosial juga berjalan efektif menekan angka kemiskinan dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025.
Memasuki tahap selanjutnya, Indonesia menyiagakan 8 kluster program prioritas.
"Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana," urai Purbaya.
Semua strategi tersebut dirancang terintegrasi lewat hilirisasi industri, penegakan hukum, dan penguatan ekonomi kerakyatan.
"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata," tambah Purbaya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Ekonomi |













