Diskusi Publik FPPJ Bahas Jaga Jakarta dan Penguatan Peran Pemuda
![]() |
| Ketua FPPJ, Endriansyah bersama bersama keynote speaker dan narasumber diskusi. (Ist) |
Rabu, 24 Juni 2026 18:23 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Transisi Jakarta menuju kota global tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan daya saing ekonomi, tetapi juga penguatan kewaspadaan dini untuk menjaga Jakarta serta partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda.
Hal tersebut menjadi fokus bahasan dalam diskusi publik yang digelar Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) di
Aula PDS HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026).
Mengusung tema "Jakarta Kota Global dan Berbudaya: Peran Kewaspadaan Dini dalam Semangat Jaga Jakarta", forum ini mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, legislatif, TNI, dan organisasi masyarakat untuk membahas strategi menjaga stabilitas sosial di tengah transformasi Jakarta menuju kota global.
Ketua Umum FPPJ, Endriansyah mengatakan, gerakan #JagaJakarta merupakan bentuk komitmen nyata pemuda dalam mengawal pembangunan ibu kota yang inklusif dan berkelanjutan.
"Jakarta yang tangguh adalah milik kita bersama. FPPJ berkomitmen menjadi garda terdepan dalam membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda. Kami akan terus mendorong ruang dialog yang inklusif agar aspirasi warga dapat terserap dengan baik," kata Rian.
Sebagai keynote speaker, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim menegaskan, Jakarta perlu belajar dari praktik terbaik kota-kota dunia tanpa kehilangan identitas dan karakter budayanya.
"Jakarta harus mampu tumbuh menjadi kota global yang modern sekaligus tetap menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi jati dirinya," ujarnya.
Diskusi yang dipandu Ketua Umum Mahasiswa Muda Transparansi (MMT), Abid Zahid Fadilah menghadirkan sejumlah narasumber yang menyoroti pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menjaga ketahanan sosial Jakarta.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Rany Mauliani menjelaskan, status kota global menuntut kesiapan masyarakat yang lebih matang.
"Pemuda harus mengambil peran sebagai agen perubahan sekaligus penjaga harmoni sosial di tengah perkembangan kota yang semakin dinamis," terangnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta, Matsani memaparkan, berbagai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial melalui program partisipatif.
"Salah satunya melalui Ngopi Cetar yang menjadi wadah penyerapan aspirasi masyarakat untuk dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan," bebernya.
Dari perspektif kewaspadaan dini, Komandan Satuan Khusus Satintel BAIS TNI sekaligus anggota Tim Kewaspadaan Dini Pemprov DKI Jakarta, Agus Kosasih menekankan pentingnya mitigasi terhadap berbagai Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) yang berpotensi muncul seiring perkembangan kota.
"Sistem kewaspadaan dini yang efektif harus didukung integrasi teknologi, kecepatan respons, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat," ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan Presiden Lumbung Informasi Rakyat, Andi Syafrani. Ia mengusulkan transformasi gerakan masyarakat sipil melalui konsep Ekosistem Sinergi Jakarta.
"Konsep ini berfokus pada kolaborasi pembangunan, pengawasan sosial, gotong royong modern, dan penguatan literasi kritis masyarakat," pungkas Rian.
Sebagai tindak lanjut diskusi, FPPJ merekomendasikan pembentukan Posko Informasi Pemuda, Gerakan Antihoaks, serta Forum Sinergi Jaga Jakarta. Ketiga wadah tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan evaluasi berkelanjutan terhadap berbagai isu kewilayahan di Jakarta.
Melalui sinergisitas pemerintah, masyarakat, dan pemuda, FPPJ optimistis Jakarta dapat mewujudkan visi sebagai kota global yang maju, aman, inklusif, serta tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya lokal menuju usia lima abad pada 2027. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













