Tolak Status Darurat Ceuta, Spanyol Pilih Kirim Militer
![]() |
| Gelombangmigran serbu wilayah Spanyol. |
JAKARTA - Krisis perbatasan kembali memanas di Ceuta setelah ribuan migran dari Maroko dilaporkan menerobos masuk ke wilayah Spanyol tersebut Kamis (30/7/2026). Arus migrasi besar-besaran ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk tuntutan penetapan status darurat nasional guna mengatasi membludaknya jumlah orang yang tiba-tiba memadati area perbatasan Tarajal.
Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas secara terbuka menuntut pemerintah pusat mengirimkan lebih banyak aparat kepolisian dan pasukan militer untuk menjamin keselamatan warganya. Ia menyoroti keterbatasan infrastruktur lokal dalam menangani krisis berskala besar ini.
"Kami tidak mencari hak istimewa; kami mencari solusi yang adil dan bertanggung jawab sesuai dengan realitas kami," urainya. Vivas juga menyebutkan pusat-pusat penerimaan migran sudah tidak mampu menampung massa, sehingga banyak yang terpaksa tidur di jalanan.
Penolakan Pemerintah Pusat
Tuntutan untuk mendeklarasikan status darurat nasional langsung ditolak oleh Kementerian Dalam Negeri Spanyol. Pihak kementerian menjelaskan regulasi yang ada hanya mengizinkan pemberlakuan status tersebut untuk peristiwa alam ekstrem atau ancaman luar biasa seperti nuklir, bukan untuk gelombang kedatangan migran.
Meski demikian, Madrid tidak tinggal diam. Sebanyak 60 anggota militer dan 30 petugas tambahan Guardia Civil langsung diterbangkan ke lokasi untuk membantu memulihkan ketertiban. Juru bicara pasukan Guardia Civil membenarkan adanya pergerakan massa dalam skala masif yang masuk dari jalur laut melewati pemecah gelombang Tarajal.
Kerja Sama dengan Maroko
Guna meredam eskalasi, Perdana Menteri Spanyol, Sánchez memastikan pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah Maroko. Langkah diplomasi ini diambil agar krisis serupa pada tahun 2021 tidak terulang kembali dengan dampak yang lebih parah.
"Ini adalah saatnya untuk membangun solusi, dengan tanggung jawab dan kerja sama," tuturnya. Di sisi lain, otoritas keamanan Maroko dilaporkan telah menggunakan gas air mata serta meriam air untuk membubarkan sisa kerumunan yang masih mencoba mendekati garis batas negara. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Basket |













