Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
8 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
7 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
8 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Basket

Ketegangan Geopolitik Tekan Kilang Minyak, Harga Produk Olahan Bertahan Tinggi

Ketegangan Geopolitik Tekan Kilang Minyak, Harga Produk Olahan Bertahan Tinggi
Ilustrasi exxonmobil. (foto: dok. exxonmobil)
Minggu, 02 Agustus 2026 10:45 WIB

JAKARTA - Masyarakat masih harus menanggung tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) kendati harga minyak mentah secara global sedang mengalami koreksi. Keterbatasan ruang operasi pengolahan minyak di berbagai belahan dunia menjadi faktor penghalang utama yang menahan laju penurunan harga BBM ke tingkat konsumen.

Dua raksasa energi asal Amerika Serikat, ExxonMobil Holdings Corp dan Chevron Corp, mengidentifikasi bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah serta Rusia membatasi kemampuan dunia dalam mendistribusikan hasil olahan minyak bumi.

Dampak Konflik Global

Situasi pelik ini membuat harga produk turunan seperti bensin dan diesel bergerak otonom, lepas dari acuan harga minyak mentah. Riset dari Melius Research memaparkan sekitar 10 persen fasilitas penyulingan global kehilangan efektivitasnya.

Tersendatnya lalu lintas di Selat Hormuz, rusaknya sejumlah infrastruktur energi di Rusia akibat konflik dengan Ukraina, dan pengetatan ekspor oleh China membuat pasar kekurangan suplai. Analis Goldman Sachs, Neil Mehta melihat bahwa tekanan ini melambungkan biaya produksi.

"Pengolahan jelas menjadi hambatan dalam sistem perminyakan saat ini, dan marginnya sangat tinggi," paparnya, Minggu (2/8/2026).

Kesenjangan Pasokan dan Permintaan

Senior Portfolio Manager Tortoise Capital Advisors, Rob Thummel menyoroti bahwa tolok ukur harga bensin saat ini beralih pada volume persediaan produk olahan, bukan lagi berpatokan pada harga minyak mentah dunia. Saat ini, persediaan bahan bakar olahan global nyaris menyentuh rekor terendah.

"Harga bensin kini tidak lagi terlalu mencerminkan pergerakan harga minyak, tetapi lebih mencerminkan pergerakan persediaan," terangnya.

Kesenjangan yang melebar ini turut dibenarkan oleh CEO ExxonMobil, Darren Woods. Perusahaan yang mengoperasikan jaringan pengolahan terbesar di luar China itu memperkirakan sekitar 5 juta barel minyak per hari tidak dapat didistribusikan ke pasar global akibat kendala penyulingan.

"Saya belum pernah melihat kapasitas yang tersedia dibandingkan dengan permintaan berada pada tingkat serendah sekarang," tegasnya.

Peredam Guncangan Terkikis

CEO Chevron, Mike Wirth menuturkan bahwa tekanan pasokan paling terasa pada kelompok distilat menengah, yang meliputi diesel dan minyak pemanas. Ketersediaan cadangan yang minim membuat pasar rentan terhadap lonjakan harga secara mendadak.

Kekhawatiran yang sama disampaikan oleh CFO Chevron, Eimear Bonner. Ketidakpastian geopolitik yang terus bergulir memangkas instrumen cadangan yang biasanya digunakan industri untuk menstabilkan harga saat terjadi krisis pasokan.

"Peredam guncangan yang sampai sekarang mampu mengurangi volatilitas terus terkikis," pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Basket
wwwwww