Blokir Selat Hormuz Diperpanjang, Harga Minyak Mentah Global Terkerek Naik
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Fluktuasi harga energi global kembali terjadi usai harga minyak dunia melanjutkan tren kenaikan pada sesi perdagangan, Rabu (12/8/2026). Minimnya kepastian terkait prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat pasar bereaksi terhadap potensi tersendatnya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Penurunan Drastis Lalu Lintas Kapal
Ancaman gangguan pasokan paling nyata terlihat di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Jalur perairan yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global ini mengalami penurunan aktivitas yang signifikan akibat blokade.
Sebelum eskalasi perang, Selat Hormuz memfasilitasi pergerakan 125 hingga 140 armada kapal setiap harinya. Data pelayaran termutakhir mencatat penyusutan drastis dengan hanya enam kapal yang melintas pada awal pekan ini.
Kondisi tersebut dipertegas oleh pernyataan Pejabat keamanan tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Jalur perairan itu akan tetap ditutup selama AS belum menerima sejumlah persyaratan Iran untuk mengakhiri perang, tandasnya.
Tren Harga Minyak Mentah Tertinggi Sejak Juli
Merespons dinamika tersebut, harga minyak mentah Brent berjangka terkerek naik 72 sen (0,81 persen) menuju angka 89,63 Dolar AS per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengikuti pola serupa, naik 71 sen (0,85 persen) untuk diperdagangkan di level 83,91 Dolar AS per barel.
Angka ini memperpanjang tren positif setelah kedua patokan harga minyak tersebut menguat lebih dari 1 Dolar AS pada penutupan sehari sebelumnya. Level harga saat ini menjadi titik tertinggi yang pernah dicapai pasar sejak 31 Juli.
Sentimen Penahan dari Cadangan AS
Meski sentimen Timur Tengah mendorong harga naik, laporan persediaan dari kawasan Amerika Utara menahan laju kenaikan tersebut agar tidak semakin tajam. Sumber pasar merujuk pada data American Petroleum Institute (API) yang mencatat penambahan stok minyak mentah AS sebanyak 9,1 juta barel dalam sepekan hingga 7 Agustus.
Lonjakan stok yang melampaui estimasi awal pasar ini kini menanti validasi dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA). Ketersediaan stok dalam jumlah besar ini dinilai dapat menjadi peredam di tengah kekhawatiran terganggunya rantai pasok minyak antarbenua.
EIA merilis perkiraan bahwa kendala suplai minyak dari Timur Tengah sebanyak 600.000 barel per hari masih akan menjadi tantangan yang dihadapi pasar energi setidaknya hingga akhir 2027 mendatang.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Basket |













