Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
23 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
23 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
23 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
23 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
22 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
22 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  KONI

Peluang Pemangkasan Suku Bunga AS Terbuka, Laju Rupiah Stagnan di Rp17.877 per Dolar

Peluang Pemangkasan Suku Bunga AS Terbuka, Laju Rupiah Stagnan di Rp17.877 per Dolar
Rupiah.
Kamis, 13 Agustus 2026 17:10 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir stagnan pada penutupan perdagangan Kamis (13/8/2026). Tarik-menarik antara sentimen positif dari dalam negeri dan ketidakpastian kondisi global membuat laju mata uang Garuda tertahan.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup di angka Rp17.877 per USD, persis sama dengan posisi penutupan kemarin. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan bahwa pasar uang merespons berbagai dinamika ekonomi secara hati-hati.

"Sore ini rupiah ditutup stagnan di Rp17.877 per USD. Kita lihat rupiah tadi sempat mengalami pelemahan tujuh poin, tapi sekarang stagnan," jelas Ibrahim.

Sentimen Positif Investor Domestik

Kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia tetap terjaga berkat rilis terbaru indeks MSCI. Lembaga tersebut tetap mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market, sebuah sinyal yang meredam potensi keluarnya arus modal asing.

Walaupun beberapa indikator mengalami penyesuaian peringkat ke bawah, pasar meresponsnya dengan tenang. Kepastian arah kebijakan moneter juga semakin terang setelah Presiden Prabowo Subianto kembali menunjuk Plt Gubernur Bank Indonesia. Keputusan ini dinilai memberikan jaminan stabilitas bagi investor luar negeri maupun domestik, sehingga rupiah tidak terperosok lebih dalam.

Harapan Pelonggaran Moneter AS

Sementara itu, laju inflasi AS yang mulai melandai sesuai ekspektasi turut menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan laju inflasi ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan perubahan arah kebijakan Federal Reserve.

"Jika harga minyak mentah mengalami penurunan, terdapat peluang The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September," tambah Ibrahim.

Faktor Ketegangan Geopolitik

Pergerakan nilai tukar juga dibayangi oleh risiko geopolitik di Timur Tengah. Klaim sepihak AS atas penguasaan Selat Hormuz mendapat penolakan keras dari Iran. Pihak Iran menyatakan bahwa wilayah perairan strategis tersebut adalah kewenangan mereka bersama Oman, dan mendesak pencabutan sanksi ekonomi demi perdamaian.

Dalam pencatatan lain, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mematok rupiah di level Rp17.882 per USD, melemah enam poin dari hari sebelumnya. Di sisi lain, Yahoo Finance mencatat penguatan tipis 0,04 persen menjadi Rp17.863 per USD. Menyikapi situasi ini, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat besok akan cenderung fluktuatif dan berpeluang ditutup melemah pada kisaran Rp17.870 hingga Rp17.920 per USD. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Nasional, KONI
wwwwww