FPPJ: Program Pembiayaan Bank Jakarta Nyata Bantu Pedagang
![]() |
| Ketua Umum FPPJ, Endriansyah. (Ist) |
Selasa, 01 September 2026 16:40 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Program pembiayaan Bank Jakarta dinilai menjadi solusi nyata untuk membantu pedagang memperoleh modal usaha tanpa terjebak bunga tinggi. Hari ini Bank Jakarta mengucurkan pembiayaan senilai Rp48 miliar bagi pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Ketua Umum Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), Endriansyah mengapresiasi kolaborasi Bank Jakarta bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya yang menyalurkan pembiayaan tersebut.
Menurutnya, program tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah daerah dan perbankan daerah terhadap keberlangsungan usaha pedagang kecil sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan.
“FPPJ mengapresiasi langkah ini sebagai solusi nyata dari Bank Jakarta untuk pedagang kecil," kata Rian, sapaan akrabnya, Selasa (1/9/2026).
Rian menjelaskan, selama ini pinjaman harian kerap menjadi pilihan pedagang karena proses pengajuannya relatif mudah dan pencairannya cepat. Namun, kemudahan tersebut dapat diikuti beban bunga dan angsuran yang tinggi sehingga total pembayaran menjadi jauh lebih besar dibandingkan nilai pinjaman awal.
Kondisi itu, lanjut Rian, berpotensi menggerus keuntungan pedagang karena sebagian pendapatan usaha harus dialokasikan untuk membayar cicilan. Akibatnya, kemampuan pedagang dalam memutar modal dan mengembangkan usaha ikut terhambat.
Untuk itu, ia menilai pembiayaan formal dari Bank Jakarta dapat menjadi alternatif yang lebih sehat bagi pedagang. Dengan skema pembiayaan yang jelas dan terukur, pedagang memiliki akses modal untuk memenuhi kebutuhan usaha sekaligus menjaga perputaran modal.
"Langkah ini menstimulasi perekonomian secara langsung di pasar tradisional. Ketika pedagang memiliki modal yang sehat, mereka bisa menambah stok barang, meningkatkan omzet, dan menggerakkan roda ekonomi rakyat," tegasnya.
Ia menuturkan, pembiayaan di Pasar Induk Kramat Jati tersebut telah menjangkau ratusan pedagang dengan total plafon sekitar Rp48 miliar.
"Dalam akad massal terbaru, akses permodalan kembali diperluas melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun non-KUR sesuai kebutuhan usaha para pedagang," ungkapnya.
Ia berharap, pola pembiayaan serupa dapat diperluas ke pasar-pasar tradisional lainnya di Jakarta. Menurutnya, keberadaan bank pembangunan daerah seharusnya tidak hanya diukur dari penyaluran kredit, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan pelaku usaha kecil.
"Bank Jakarta terus berbuat dan hadir untuk pedagang. Ini bukan sekadar menyalurkan kredit, melainkan investasi bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan masa depan UMKM Jakarta," pungkasnya. ***
| Kategori | : | Ekonomi, DKI Jakarta |













