Antre Subuh di Yogyakarta, Pengamat: Gejala Krisis Kepercayaan pada Sekolah Formal
![]() |
| Ilustrasi (net) |
YOGYAKARTA - Video antrean panjang para orang tua sejak Subuh di depan bimbingan belajar di Yogyakarta menuai sorotan. Pengamat pendidikan menilai fenomena tersebut sebagai cerminan pergeseran atau penurunan tingkat kepercayaan terhadap sistem sekolah formal.
Rekaman antrean itu sebelumnya viral di media sosial, salah satunya terjadi di Bimbingan Belajar Exist Gayam, Jalan Gayam, Kota Yogyakarta. Sejumlah orang tua bahkan mendaftar jauh hari sebelum program bimbingan belajar dimulai demi mendapatkan tempat untuk anak mereka.
Respons Pengamat Pendidikan
Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji melihat fenomena tersebut sebagai gambaran dari shadow education atau pendidikan bayangan, yakni layanan tambahan di luar sistem sekolah formal.
"Setahun sebelum lesnya bahkan dimulai. Kalau ini terjadi sekali, itu anekdot. Tapi ketika video antrean subuh di Bimbel Exist Gayam, Yogyakarta viral dan direspons dengan 'wah relate banget' oleh ribuan orangtua di seluruh Indonesia, itu bukan lagi cerita lokal, itu adalah hasil jajak pendapat nasional yang tidak sengaja, dan hasilnya jelas, rakyat sudah memvonis sekolah formal kita," ujar Indra, Rabu (2/9/2026).
Menurut Indra, persoalan tersebut tidak berhenti pada tingginya minat masyarakat terhadap les tambahan. Ada masalah kepercayaan yang lebih mendasar ketika orang tua harus merogoh kocek lebih dalam untuk pendidikan anak.
"Perhatikan alasan orangtua. Rahmawati mendaftarkan anaknya karena 'testimoni', bukan karena kurikulum sekolah dianggap hebat, bukan karena guru di sekolah dianggap kurang, tapi karena rekam jejak alumni bimbel itu tembus SMA favorit dan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA)-nya bagus," urainya.
Ia menambahkan, alasan serupa disampaikan pendaftar lain yang berharap hasil penilaian akademik anaknya bisa maksimal berkat les tambahan, bukan semata-mata mengandalkan pengajaran di sekolah.
Paradoks Penilaian Akademik
Lebih lanjut, Indra menilai kondisi itu menunjukkan bahwa sekolah formal dianggap belum sepenuhnya mampu mengantarkan siswa menghadapi persaingan ujian. Akibatnya, fungsi pendidikan inti seolah bergeser ke lembaga bimbingan belajar.
"Ini paradoks yang memalukan, negara membuat ujian, sekolah negara gagal mempersiapkan siswanya, lalu orang tua harus membayar pihak ketiga supaya anaknya lulus ujian yang dibuat negara. Siapa yang sebenarnya gagal di sini?," pungkasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Umum, DKI Jakarta, DI Yogyakarta |













