Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
11 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
10 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
10 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
7 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
11 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Home  /  Berita  /  Umum

Antre Subuh di Yogyakarta, Pengamat: Gejala Krisis Kepercayaan pada Sekolah Formal

Antre Subuh di Yogyakarta, Pengamat: Gejala Krisis Kepercayaan pada Sekolah Formal
Ilustrasi (net)
Kamis, 03 September 2026 11:56 WIB

YOGYAKARTA - Video antrean panjang para orang tua sejak Subuh di depan bimbingan belajar di Yogyakarta menuai sorotan. Pengamat pendidikan menilai fenomena tersebut sebagai cerminan pergeseran atau penurunan tingkat kepercayaan terhadap sistem sekolah formal.

Rekaman antrean itu sebelumnya viral di media sosial, salah satunya terjadi di Bimbingan Belajar Exist Gayam, Jalan Gayam, Kota Yogyakarta. Sejumlah orang tua bahkan mendaftar jauh hari sebelum program bimbingan belajar dimulai demi mendapatkan tempat untuk anak mereka.

Respons Pengamat Pendidikan

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji melihat fenomena tersebut sebagai gambaran dari shadow education atau pendidikan bayangan, yakni layanan tambahan di luar sistem sekolah formal.

"Setahun sebelum lesnya bahkan dimulai. Kalau ini terjadi sekali, itu anekdot. Tapi ketika video antrean subuh di Bimbel Exist Gayam, Yogyakarta viral dan direspons dengan 'wah relate banget' oleh ribuan orangtua di seluruh Indonesia, itu bukan lagi cerita lokal, itu adalah hasil jajak pendapat nasional yang tidak sengaja, dan hasilnya jelas, rakyat sudah memvonis sekolah formal kita," ujar Indra, Rabu (2/9/2026).

Menurut Indra, persoalan tersebut tidak berhenti pada tingginya minat masyarakat terhadap les tambahan. Ada masalah kepercayaan yang lebih mendasar ketika orang tua harus merogoh kocek lebih dalam untuk pendidikan anak.

"Perhatikan alasan orangtua. Rahmawati mendaftarkan anaknya karena 'testimoni', bukan karena kurikulum sekolah dianggap hebat, bukan karena guru di sekolah dianggap kurang, tapi karena rekam jejak alumni bimbel itu tembus SMA favorit dan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA)-nya bagus," urainya.

Ia menambahkan, alasan serupa disampaikan pendaftar lain yang berharap hasil penilaian akademik anaknya bisa maksimal berkat les tambahan, bukan semata-mata mengandalkan pengajaran di sekolah.

Paradoks Penilaian Akademik

Lebih lanjut, Indra menilai kondisi itu menunjukkan bahwa sekolah formal dianggap belum sepenuhnya mampu mengantarkan siswa menghadapi persaingan ujian. Akibatnya, fungsi pendidikan inti seolah bergeser ke lembaga bimbingan belajar.

"Ini paradoks yang memalukan, negara membuat ujian, sekolah negara gagal mempersiapkan siswanya, lalu orang tua harus membayar pihak ketiga supaya anaknya lulus ujian yang dibuat negara. Siapa yang sebenarnya gagal di sini?," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Umum, DKI Jakarta, DI Yogyakarta
wwwwww