Namanya Mendadak Muncul di Buku 'Islam Ala Prabowo', Gus Kautsar Merasa Tak Dilibatkan dalam Proyek
![]() |
| Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar. (Foto: YouTube Teras Gubuk) |
JAKARTA - Tradisi keilmuan pesantren tidak pernah mengenal pengotakan agama dengan menempelkan nama tokoh tertentu. Pandangan ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar saat menyikapi beredarnya buku 'Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam' yang ikut memuat namanya di dalam naskah.
Melalui siaran YouTube Teras Gubuk, Jumat (11/9/2026), Gus Kautsar menyoroti penggunaan nama tersebut yang dinilai kurang pas. Ia menyebut pelabelan ajaran agama dengan sosok personal tidak pernah diajarkan oleh para ulama pendahulu.
"Saya ngomong begitu karena kapasitas guru-guru kami saja, kami tidak punya tuh Islam Ala Mbah Hasyim Zaelani misalnya," jelasnya.
Ia menambahkan rentetan nama ulama besar lainnya untuk memperkuat argumennya tentang ketiadaan rumusan agama berbasis tokoh.
"Enggak punya tuh. Islam Ala Mbah Ya Huda, enggak ada tuh. Atau yang mungkin kamu kenal misalnya Islam Ala Mbah Maimoen, enggak ada tuh," paparnya.
Menurutnya, pembicaraan terkait agama murni dari ajaran itu sendiri, bukan berdasarkan konstruksi pendapat pribadi.
"Karena kami tidak biasa bahwa ngomongkan Islam kemudian ngomongkan menurut saya, enggak ada tuh, enggak ada," tekannya.
Di sisi lain, ia menyarankan agar pembuat buku menggunakan pendekatan kalimat yang lebih halus jika niat awalnya adalah membedah kedekatan Prabowo Subianto dengan kalangan santri.
"Kalau dalam rangka menjelaskan bagaimana hubungan beliau dengan Islam, beliau dengan pesantren, harusnya judulnya enggak kayak gitu. Itu lebih soft dan itu lebih punya potensi untuk kemudian dibaca dengan baik," imbuhnya.
Terkait pencantuman namanya, ia mengaku sama sekali tidak terlibat dalam penyusunan karya tersebut. Ia hanya menyayangkan ketiadaan informasi dari tim penyusun.
"Maka sebetulnya bukan masalah kami keberatan atau tidak, tapi lebih kepada kami kok tidak merasa ya, ikut dalam proyek ini," bebernya.
Ia berharap pihak terkait bisa lebih mengedepankan etika komunikasi sebelum menerbitkan sebuah naskah yang mengutip pandangan seseorang.
"Karena kalau kemudian nama kami ada, harusnya sebelum masuk ke percetakan, kami dikasih tahu tuh, ini ada seperti ini. Mestinya, normalnya begitu," akhirnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | e-Sports, DKI Jakarta |













