Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
9 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Nasional

Demokrasi Terancam Dibajak, Prabowo Ingatkan Bahaya Manuver Kekuatan Ekonomi Besar

Demokrasi Terancam Dibajak, Prabowo Ingatkan Bahaya Manuver Kekuatan Ekonomi Besar
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat menghadiri perayaan HUT ke-28 PAN di JICC, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Sabtu, 19 September 2026 10:04 WIB

JAKARTA - Cita-cita reformasi dan sistem demokrasi menghadapi kerentanan tinggi dari manuver kelompok pemilik modal besar. Presiden Prabowo Subianto membedah bagaimana kekuatan uang, khususnya yang berasal dari sumber tidak sah, berpotensi digunakan untuk membajak jalannya negara.

Agenda Puncak Perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam, menjadi panggung bagi Prabowo untuk memaparkan potensi ancaman tersebut.

Upaya Membeli Kedaulatan Negara

Prabowo mengingatkan masyarakat dan para pelaku politik untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap intervensi pemodal besar dalam sistem ketatanegaraan. Menurutnya, kekuatan uang yang berlimpah bisa menjadi instrumen untuk menguasai kebijakan.

"Saudara-saudara, tapi kita harus hati-hati bahwa demokrasi bisa dibajak. Demokrasi bisa dibeli. Oleh mereka-mereka yang punya kekuatan ekonomi besar, mereka-mereka yang punya uang banyak, dan terutama mereka-mereka yang uangnya didapat dengan cara tidak halal. Alias mereka mau membajak demokrasi kita," terangnya.

Mengincar Pucuk Pimpinan dan Aparat Hukum

Untuk memuluskan aksinya, kelompok ini tidak ragu membidik figur-figur sentral di pemerintahan maupun peradilan. Penyuapan menjadi jalan pintas yang mereka pilih.

"Mereka mau menyogok tokoh-tokoh politik kita. Mereka mau membelinya, nyogok hakim, nyogok jaksa, nyogok jenderal, nyogok menteri, mereka mau nyogok presiden," urainya lebih lanjut.

Meski memberikan gambaran yang jelas mengenai target operasi penyuapan, tidak ada satu pun nama individu atau korporasi yang diungkapkan ke publik.

Invasi Pikiran Menggunakan Pasukan Siber

Di luar metode konvensional seperti penyuapan, Prabowo juga menyoroti penggunaan cara-cara modern yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Kelompok berduit ini dinilai turut membiayai pasukan siber untuk mengganggu stabilitas suatu negara, sebuah pola yang ia sebut sebagai bentuk perang masa kini.

"Tapi ini bahaya yang dialami banyak negara. Jadi ini adalah termasuk perang. Perang sekarang tidak perlu dengan kirim pasukan banyak," tandasnya.

Sebagai gantinya, ruang media sosial dipenuhi oleh pasukan pendengung dan sistem otomatisasi yang dirancang untuk mendistribusikan fitnah ke tengah masyarakat.

"Dengan uang, mereka memelihara apa itu algoritma, pakai buzzer-buzzer, robot-robot, anak-anak kita, bapak-bapak kita, rakyat kita dirusak," pungkasnya memberikan peringatan keras kepada kader PAN untuk terus menjaga kemurnian sistem demokrasi.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Nasional, DKI Jakarta
wwwwww