Dokumenter NAZA Bongkar Tragedi Gaza, PM Israel Netanyahu Tuntut Informan Militer Dipidana
![]() |
| PM Benjamin Netanyahu marah setelah 24 informan militer Israel bocorkan kejahatan perang di Gaza dalam film NAZA. |
JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu meluapkan kemarahannya dan meminta penyelidikan terhadap sumber-sumber anonim dalam film dokumenter perang Gaza berjudul "NAZA". Film yang mengungkap kejahatan operasi militer Israel tersebut baru saja meraih penghargaan bergengsi di Festival Film Venesia.
Karya sinematik ini didasarkan pada kesaksian 24 informan militer Israel yang identitasnya sengaja dirahasiakan. Mereka membeberkan fakta bahwa militer membunuh banyak warga sipil di Gaza menggunakan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menanggapi hal tersebut, kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan resmi yang memerintahkan jajaran keamanan tingkat tinggi untuk segera mengambil tindakan represif terhadap para pembocor informasi.
"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu malam ini meminta kepala staf militer Israel, kepala Shin Bet, dan jaksa negara untuk memulai penyelidikan menyeluruh yang menargetkan para partisipan dalam film 'NAZA' serta menuntut mereka secara hukum," urainya dalam keterangan resmi, Senin (12/10/2026).
Ancaman Pencabutan Kewarganegaraan
Judul "NAZA" mengambil istilah militer Israel untuk menyebut korban sipil yang diperkirakan akan jatuh dalam serangan udara, yang bermakna kerusakan tambahan. Film ini mencetak sejarah usai mendapat apresiasi berdiri selama 25 menit dan meraih penghargaan khusus juri di Venesia.
Meskipun menuai pujian global karena membongkar kekejaman tersebut, tayangan ini memicu badai politik internal di Israel. Netanyahu bahkan berencana mendukung undang-undang yang memungkinkan pencabutan kewarganegaraan bagi pihak yang dinilai mencemarkan nama baik tentara.
"Film ini menceritakan kisah yang keliru, menyesatkan, dan bias yang mencemarkan nama baik Negara Israel dan militernya di mata dunia," kilahnya.
Dampak Agresi dan Genosida Gaza
Di tengah kemarahan pejabat Israel atas bocornya informasi tersebut, kampanye operasi tempur di wilayah kantong Palestina terus menelan korban jiwa masif. Kelompok hak asasi manusia dan akademisi internasional secara tegas menilai rentetan serangan tersebut sebagai genosida.
Berdasarkan data kementerian kesehatan setempat, agresi itu telah menewaskan lebih dari 74.000 orang. Serangan bertubi-tubi juga meluluhlantakkan sistem pelayanan medis dan fasilitas publik secara menyeluruh.
Sebagian besar penduduk kini terpaksa mengungsi di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk. Pasukan darat dan udara militer Israel dilaporkan telah meratakan seluruh kawasan permukiman sipil hingga tidak bersisa. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | sindonews.com |
| Kategori | : | Umum |













