Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
19 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
17 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
7 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
8 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
7 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
8 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Cerbung Bagian ke-107

Nikah Siri: Duh.., Jangan Ngebut Pak, Saya Belum Nikah

Nikah Siri: Duh.., Jangan Ngebut Pak, Saya Belum Nikah
Rabu, 08 Maret 2017 21:18 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara
SUARA KLASON TAKSI - beruntun di luar pintu pagar rumah. Siti, Linda dan Butet bergegas ke luar menuju taksi. Ketika mereka meluncur ke kediaman Rusman, hujan rintik-rintik yang semakin lama semakin deras.

''Waduhhhh... Pak supir kalau bisa cepat dikit. Ntar.. kita terjebak banjir'' kata Butet yang duduk dibangku belakang bersama Linda.

''Kalau pun banjir... lama lagi...'' kata pak supir setengah baya sambil menghidupkan penyapu air kaca depan.

''Bukan begitu Pak.. jalan yang kita lalui memang langganan banjir. Jadi tak perlu lama hujan. Sebentar saja air parit meluap. Kata Butet lagi.

''Siap Buk...'' kata Pak supir agak memacu cepat mobilnya.

''Duhhhh.. jangan ngebut Pak. Saya belum nikah nehhhh...'' kata Linda tertawa kuat.

''Pelan-pelan aja lah Pak...'' kini Siti pula yang nimbrung. Pak supir manggut-manggut aja. Mungkin dia bingung juga yang mana mau diikutin.

Sesampai di pintu pagar rumah Rusman, Siti minta supir agar langsung masuk hingga ke teras, karena hujan semakin lebat. Sepertinya pintu depan ditutup. Tak jelas apakah ada Rusman atau tidak di rumah. Butet beberapakali memencet Bel. Sesaat pintu terbuka. Di situ hadir pembantu tengah baya.

''Ohhh.. Ibu... masuk Bu...'' kata si pembantu yang memang sudah kenal dengan Siti.

''Bapak ada...?'' tanya Siti belum mau masuk.

''Bapak ke tempat Ibu nya. Sudah dari tadi bersama Bu Ratna. Kalau Ibu perlu telepon aja..'' kata si pembantu. Siti dan Linda serta Butet segera masuk dan duduk di ruang depan.

Siti mencoba menghubungi Rusman melalui Hp nya. Tetapi beberapakali dihubungi tak diangkat kendati ada nada masuk.

''Kok ngak diangkatnya...?'' Siti berkamit. Lalu terus dicobanya menghubungi. Tetap saja tak diangkat.

''Sepertinya dia tak mau lagi bicara dengan aku neh...'' kata Siti bicara sendiri. Tak ditujukannya kata-katanya itu kearah Linda dan Butet.

''Kok gitu...?'' tanya Butet.

''Ngak tau. Nadanya masuk, tapi tak diangkatnya'' wajah Siti sedikit agak risau. Artinya, mengapa Rusman kali ini tak mau mengangkat telponnya. Padahal sebelum sebelumnya tak pernah sekalipun Rusman tak mengangkat jika dihubunginya.

''Aku curiga, kalaukau mau nikah sudah bocor... Ti'' kata Linda.

''Maksudnya...'' tanya Siti singkat.

''Yahhh.. mungkin dia berpikir pasti kau akan memberitaukan masalah itu. Sehingga dia, tak ingin lagi dihubungi''.

''Bisa saja begitu Ti'' kali ini Butet yang mendukung dugaan Butet itu. (Bersambung)

Cerita Sebelumnya...

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww