Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pimpin Penangkapan Buronan Nurhadi, Novel Baswedan Jadi Trending
Peristiwa
22 jam yang lalu
Pimpin Penangkapan Buronan Nurhadi, Novel Baswedan Jadi Trending
2
Pencurian Tiga Buah Tandan Sawit Berujung di Pengadilan, DPRD Riau Segera Panggil PTPN V
Hukum
2 jam yang lalu
Pencurian Tiga Buah Tandan Sawit Berujung di Pengadilan, DPRD Riau Segera Panggil PTPN V
3
Bamsoet: Sektor Pariwisata Akan Pulih dengan Menerapkan Protokol Kesehatan
Politik
23 jam yang lalu
Bamsoet: Sektor Pariwisata Akan Pulih dengan Menerapkan Protokol Kesehatan
4
Sebelum Kader IMM Bergerak, Ade Armando Diminta Segera Minta Maaf ke Din Syamsuddin
Peristiwa
22 jam yang lalu
Sebelum Kader IMM Bergerak, Ade Armando Diminta Segera Minta Maaf ke Din Syamsuddin
5
Bambang Widjojanto: Meski Mata Novel Baswedan Dirampok, Tapi Berhasil Tangkap Nurhadi
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Bambang Widjojanto: Meski Mata Novel Baswedan Dirampok, Tapi Berhasil Tangkap Nurhadi
6
Tahun Ajaran Baru, DPR Dukung Pembelajaran Tetap Jarak Jauh
Politik
23 jam yang lalu
Tahun Ajaran Baru, DPR Dukung Pembelajaran Tetap Jarak Jauh

Sejahterakah Nelayan Kita?

Kamis, 12 Desember 2019 12:40 WIB
Penulis: Mujiono, SE
Sejahterakah Nelayan Kita?Mujiono
RIAU merupakan provinsi yang kaya sumber daya alam, tidak terkecuali pada sub sektor perikanan. Wilayah Riau yang banyak dialiri sungai dan laut menjadikan setiap wilayah di Riau memiliki potensi perikanan yang sangat tinggi.

Oleh karenanya tidak mengherankan jika masyarakat Riau banyak yang berprofesi sebagai nelayan maupun sebagai pembudidaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama masyarakat yang tinggal di tepian sungai dan masyarakat di pesisir.

Walaupun hasil hitungan terakhir BPS, nilai PDRB Riau sub sektor perikanan pada tahun 2018 telah mencapai Rp21,83 triliun di mana pada tahun 2014 hanya sebesar Rp17,02 triliun, akan tetapi kondisi nelayan kita masih belum sepenuhnya sejahtera.

Permasalahan paling menonjol adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia para nelayan serta minimnya akses mereka pada permodalan. Pertanyannya, solusi seperti apa agar nelayan kita menjadi lebih sejahtera?

Nelayan adalah kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sumber daya kelautan dan perikanan. Profesi mereka bisa sebagai penangkap ikan maupun berprofesi sebagai pembudidaya ikan. Sebagai penangkap ikan, jika ikan sedang melimpah mereka akan mendapatkan pendapatan yang besar.

Sebaliknya, jika sedang peceklik seperti cuaca dan ombak pasang yang tinggi mereka akan berhenti melaut. Dengan mereka berhenti melaut, maka mereka tidak lagi memiliki pendapatan lain sebagai sumber kehidupan.

Begitu juga mereka yang berprofesi sebagai pembudidaya ikan, mahalnya pakan ikan dan biaya lain terkadang tidak sebanding dengan harga yang mereka peroleh saat panen. Kondisi diatas, akan membuat nelayan kita akan terjebak pada juragan atau toke, imbasnya mereka akan semakin susah untuk keluar dari kemiskinannya.

Nilai Rp21,83 triliun yang dihasilkan sub sektor perikanan pada perekonomian Riau pada tahun 2018 sudah selayaknya menjadi cermin bagi Pemerintah Provinsi Riau bahwa kita harus lebih fokus untuk mencari dan menggali potensi-potensi di sektor perikanan.

Namun, upaya meningkatkan kinerja sub sektor perikanan harus dibarengi dengan upaya meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Kenapa hal ini begitu penting? Karena kita tidak akan mampu meningkatkan kinerja sub sektor perikanan jika masyarakat tidak tertarik lagi untuk menekuni usaha nelayan karena tidak menguntungkan.

Salah satu indikator yang mampu menggambarkan apakah usaha sub sektor perikanan menarik atau tidak adalah dengan melihat seberapa besar nilai tukar petaninya. Menarik atau tidak memiliki makna apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak untuk dilakukan.

Hasil potret BPS, pada November 2019, nilai tukar petani sub sektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,26 persen dari 112,30 menjadi 112,02. Jika kita telaah lebih dalam, penurunan ini terjadi baik pada nilai tukar petani pada perikanan tangkap maupun pada perikanan budidaya masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,22 dan 0,31 persen.

Melihat fenomena di atas, satu hal yang harus menjadi kesepakatan kita bersama bahwa menurunnya Nilai Tukar Petani pada sub sektor perikanan merupakan early warning atau peringatan dini terhadap kondisi usaha perikanan apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak untuk dilakukan.

Nilai penurunan memiliki arti bahwa pada periode tersebut nilai uang yang dibayar petani perikanan lebih besar dibandingkan nilai uang yang diterima mereka, artinya pada periode tersebut petani mengalami kerugian.

Selain itu, menurunnya nilai tukar petani perikanan pada perikanan tangkap sering kali disebabkan oleh menurunnya hasil tangkapan mereka di laut sebagai dampak cuaca buruk ataupun faktor lain sehingga tingginya biaya yang dikeluarkan oleh nelayan tidak sebanding dengan nilai yang mereka peroleh atau bahkan mereka tidak mendapatkan apa-apa setalah melaut.

Kondisi di atas jika terus dibiarkan akan membuat nelayan kita berhenti melaut, maka nelayan kita tidak lagi memiliki pendapatan apalagi jika mereka hanya menggantungkan hidup dari melaut.

Kondisi nelayan kita yang sangat rentan tersebut ditambah dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia nelayan kita terutama dalam hal pengelolaan keuangan serta minimnya akses mereka pada permodalan akan semakin memperparah nelayan kita .

Fakta di lapangan seringkali nelayan kita harus meminjam uang pada toke/pendana sebagai biaya untuk melaut serta untuk biaya hidup keluarga yang mereka tinggalkan. Kondisi di atas akan membuat nelayan kita tidak bisa lagi menjual hasil tangkapan kecuali hanya kepada toke atau pendana, yang tentunya hal ini sangat merugikan para nelayan kita.

Tidak jauh berbeda dengan nelayan, pada perikanan budi daya, mahalnya biaya pakan ikan dan biaya lain seringkali tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka peroleh saat panen. Terkadang para petani ikan budi daya harus menenggak pil pahit kerugian sebagai dampak gagal panen atau pun penurunan harga saat mereka panen. Kondisi tersebut akan semakin membuat buram potensi usaha disektor perikanan budi daya.

Semakin menurunnya nilai tukar petani pada perikanan tangkap yang tentunya menyangkut kesejahteraan para petani ikan kita, harus menjadi catatan serius pemerintah bahwa upaya untuk mensejahterakan petani perikanan adalah mutlak suatu keharusan. Merekalah yang telah berjuang dalam upaya memenuhi kebutuhan protein kita. Jika mereka tidak mau lagi mencari ikan dan membudidaya, lantas siapa lagi yang akan mencukupi kebutuhan ikan untuk kita?

Oleh karenanya, upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah melalui program-program pada sub sektor perikanan selayaknya harus terus dilakukan. Selain itu upaya yang patut dilakukan adalah dengan berupaya maksimal menghidupkan koperasi-koperasi perikanan.

Dengan hidupnya koperasi perikanan, maka para nelayan dan pembudidaya akan mudah mendapatkan akses permodalan sehingga memperkecil potensi mereka terjebak dengan juragan/toke atau pendana.

Di samping itu, jika koperasi-koperasi perikanan telah mampu berperan maksimal, maka koperasi-koperasi tersebut akan mampu menampung semua produksi yang dihasilkan para nelayan dan pembudidaya ikan kita.

Dengan tertampungnya semua produksi melalui koperasi, maka para nelayan dan pembudidaya ikan kita akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga dibanding jika mereka menjual kepada tengkulak atau toke.

Dengan bertambahnya pendapatan mereka, tentunya nelayan dan pembudidaya ikan akan semakin sejahtera. Sejahteranya nelayan dan pembudidaya ikan akan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk terjun menjadi nelayan serta menggeluti usaha-usaha lain di sub sektor perikanan yang pada akhirnya kita akan memiliki kekuatan untuk menggali potensi-potensi perikanan demi semakin makmurnya negeri kita. Semoga. *** Mujiono, SE adalah Statistisi Ahli BPS Provinsi Riau.

Kategori:Ragam

wwwwww