Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Instiawati Ayus dan YIRA Kebut Perhutanan Sosial Riau
Lingkungan
18 jam yang lalu
Instiawati Ayus dan YIRA Kebut Perhutanan Sosial Riau
2
Soal Isu Terduga Pemalsuan SNI, Pengusaha Kimin Tanoto Merasa Disudutkan Media
Hukum
9 jam yang lalu
Soal Isu Terduga Pemalsuan SNI, Pengusaha Kimin Tanoto Merasa Disudutkan Media
3
Rencananya, Angkatan Ke-IV Kartu Prakerja Dimulai Akhir Juli 2020
Pemerintahan
16 jam yang lalu
Rencananya, Angkatan Ke-IV Kartu Prakerja Dimulai Akhir Juli 2020
4
Harga Emas Naik Seiring Dorongan Meredam Kejatuhan Ekonomi lantaran Pandemi
Ekonomi
15 jam yang lalu
Harga Emas Naik Seiring Dorongan Meredam Kejatuhan Ekonomi lantaran Pandemi
5
Spekulasi Dampak Terburuk Pandemi Berakhir sempat Lemahkan Dolar
Ekonomi
15 jam yang lalu
Spekulasi Dampak Terburuk Pandemi Berakhir sempat Lemahkan Dolar
6
Dunia Berubah, Presiden Minta Perwira Muda TNI-Polri Kuasai Teknologi
Pemerintahan
13 jam yang lalu
Dunia Berubah, Presiden Minta Perwira Muda TNI-Polri Kuasai Teknologi

Pastor di Banyuwangi Bangun Tempat Ibadah Umat Islam, Ternyata Ini Alasannya

Pastor di Banyuwangi Bangun Tempat Ibadah Umat Islam, Ternyata Ini Alasannya
Romo Tiburtius Catur Wibawa. (kompas.com)
Minggu, 22 Desember 2019 12:55 WIB
BANYUWANGI - Meski seorang pastor, Romo Tiburtius Catur Wibawa tidak hanya peduli dengan Umat Katolik, namun juga memikirkan kenyamanan beribadah bagi Umat Islam. Buktinya, Romo Catur membangun musala di Griya Ekologi Kelir di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Dikutip dari kompas.com, Griya Ekologi Kelir adalah tempat pelatihan dengan lahan seluas 2 hektare milik SMA Katolik Hikmah Mandala, Banyuwangi, yang dinaungi Yayasan Karmel Keuskupan Malang.

Musala sederhana itu dibangun oleh Romo Catur sejak Mei 2019. Saat ini musala itu bisa digunakan dan menampung 12 orang.

Saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (21/12/2019) melalui saluran telepon, Romo Catur bercerita Griya Ekologi Kelir di Banyuwangi adalah rumah edukasi untuk menumbuhkan kembali rasa cinta pada alam. Pemberkatan rumah edukasi itu dilakukan pada 22 Septemebr 2018 lalu.

''Sejak rumah edukasi ini dibangun, banyak tamu yang datang ke rumah edukasi ini dari lintas agama. Ada yang Kristen, Katolik, dan Islam. Lalu saya berinisiatif membangun musala kecil di sini agar tamu muslim yang datang bisa shalat dengan nyaman,'' katanya.

Sebelum musala itu dibangun, Romo Catur bercerita bahwa tamu Muslim biasanya akan shalat berjamaah di ruangan kosong yang telah dibersihkan atau di kamar yang ada di Griya Ekologi Kelir.

''Tamu yang datang ke sini memang kebanyakan beragama Katolik, Kristen, dan Islam, dan sejak ada mushala ini saya ikut bahagia karena mereka juga bisa beribadah,'' katanya.

Saat ini Romo Catur sedang membangun Rumah Maria yang bisa digunakan untuk umat Nasrani berdoa dan beribadah.

''Rumah Maria sekarang sedang proses dibangun,'' katanya.

Kepada Kompas.com, Romo Catur bercerita tidak tertutup kemungkinan ada yang ingin mendirikan pura untuk ibadah umat Hindu dan wihara untuk ibadah umat Buddha di lahan Griya Ekologi Kelir.

''Jika ada yang ingin membangun pura dan wihara di sini, kami terbuka. Kalau sekarang tidak memungkinkan karena kendala di biaya. Sementara mushala dulu dan Rumah Maria yang dibangun,'' katanya.

Griya Ekologi Kelir memiliki lingkungan alam yang asri. Bangunan yang dirikan adalah rumah adat Banyuwangi yang didominasi kayu.

Selain itu, Romo Catur dan warga sekitar menanam berbagai macam pohon di wilayah tersebut. Sebagian tanaman dijual untuk biaya operasional Griya Ekologi Kelir.

''Kita kembali di alam. Jadi semua bangunan pakai rumah adat Banyuwangi dari kayu, termasuk juga mushala semua dari kayu. Di sini juga kita minimalkan penggunaan plastik agar tidak banyak sampah,'' kata Romo Catur.

Kuliahkan Siswa Muslim

Saat masih menjabat sebagai Kepala SMA Katolik Hikmah Mandala, Romo Catur menanggung biaya kuliah salah satu siswanya yang bernama Martina Puspita (25) yang lulus SMA pada tahun 2011. Dilansir dari pemberitaan Kompas.com pada 19 Januari 2018, Martina yang kuliah di Universitas Jember Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia memutuskan menggunakan jilbab saat semester III.

Setelah menyelesaikan skripsi, Martina diminta Romo Catur untuk kembali ke almamaternya untuk mengajar Bahasa Indonesia di SMA Katolik Hikmah Mandala.

''Saat itu saya bilang Romo Catur saya menggunakan jilbab. Lalu romo bilang ya enggak apa-apa. Ngajar saja, yang penting jilbabnya rapi. Dan, saya akhirnya pulang kembali ke almamater saya untuk mengajar dan wisuda tahun 2016,'' kaat Martini, Jumat (19/12/2018).

Sementara itu, Romo Catur bercerita ada 11 lulusan SMA yang ia kuliahkan selama menjabat sebagai kepala sekolah dari 2006 hingga 2018.

''Saya kuliahkan mereka yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan dan secara ekonomi menengah ke bawah. Dan, saya tidak mengikat mereka. Bebas setelah lulus mau ke mana saja. Dari sembilan yang sudah lulus semuanya mengajar tidak hanya di sini, ada juga yang di Malang. Salah satunya ya Bu Martina,'' kata Romo Catur.***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Ragam

wwwwww