Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Raih Juara Ganda Putri, Isyana/Rinjani: Kuncinya Bermain Penuh Keyakinan
Badminton
20 jam yang lalu
Raih Juara Ganda Putri, Isyana/Rinjani: Kuncinya Bermain Penuh Keyakinan
2
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
Badminton
20 jam yang lalu
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
3
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
Sepakbola
19 jam yang lalu
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
4
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
Sepakbola
19 jam yang lalu
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
5
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
Sepakbola
19 jam yang lalu
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
6
Raih Gelar Ganda Putra Bersama Daniel, Rian: Sangat Senang Bisa Bawa Junior Juara
Badminton
19 jam yang lalu
Raih Gelar Ganda Putra Bersama Daniel, Rian: Sangat Senang Bisa Bawa Junior Juara

MUI Jatim Larang Muslim Ucapkan Selamat Natal, Kecuali Wapres Ma'ruf Amin, Ini Alasannya

MUI Jatim Larang Muslim Ucapkan Selamat Natal, Kecuali Wapres Maruf Amin, Ini Alasannya
Pengurus MUI Jawa Timur. (detik.com)
Rabu, 25 Desember 2019 06:58 WIB
SURABAYA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) mengimbau umat Islam (Muslim) tidak mengucapkan selamat Hari Raya Natal kepada umat Nasrani, kecuali Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin.

Dikutip dari detik.com, Sekretaris MUI Jatim Moch Yunus mengatakan, Ma'ruf Amin mendapat pengecualian karena merupakan seorang pemimpin.

''Nah kalau urusan itu, mungkin pak Wapres punya pertimbangan sebagai pemimpin negara,'' ujar Yunus kepada wartawan pada Jumat (20/12/2019) di Surabaya.

Yunus mengatakan tidak mengucapkan selamat Natal bukanlah tindakan intoleransi. Hal ini lebih berkaitan dengan akidah Islam yang harus tetap dijaga.

Yunus juga menyarankan pengucapan Selamat Hari Natal bisa juga diwakilkan oleh pemimpin.

''Toleransi itu adalah saling menghormati dan saling setuju terhadap perbedaan beragama, jika toleransi itu dipahami dengan baik, maka tidak boleh ada orang muslim kemudian dipaksa menggunakan atribut keagamaan non muslim. Contohnya ada anak berjilbab dan harus memakai topi Sinterklas. Apakah itu termasuk toleran? tentu itu keliru,'' papar Yunus.

''Toleransi itu setuju dan disepakati dalam perbedaan masing-masing agama. Sehingga ketika orang tidak mengucapkan selamat hari Natal, tidak menggunakan atribut perayaan mereka, itu bukan dimaksud intoleran,'' imbuh Yunus.***

Editor:hasan b
Sumber:detik.com
Kategori:Ragam
wwwwww