Ada Ibu Tega Bawa Anaknya Ledakkan Bom Bunuh Diri di Gereja, Begini Analisa Adik Kandung Trio Bomber Bali

Ada Ibu Tega Bawa Anaknya Ledakkan Bom Bunuh Diri di Gereja, Begini Analisa Adik Kandung Trio Bomber Bali
Ledakan bom bunuh diri di gereja di Surabaya, Ahad pagi. (dok)
Minggu, 13 Mei 2018 20:45 WIB
SURABAYA Bom meledak di tiga gereja di Surabaya dalam waktu yang hampir bersamaan, Ahad (13/5) pagi. Informasi terbaru, sebanyak 11 orang tewas dan 40 luka-luka akibat teror bom tersebut.

Sejumlah pihak menduga bom bunuh di sejumlah gereja di Surabaya ini terkait dengan kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, beberapa hari lalu.

Dikutip dari tribunnews.com, Ali Fauzi, sang mantan pentolan Jamaah Islamiyah (JI) yang juga adik kandung sang Trio Bomber Bali, bahkan menduga bom di tiga gereja di Surabaya merupakan aksi balas dendam terkait kerusuhan di Mako Brimob.

Ditemui Tribunjatim.com Minggu (13/5) siang ini, Manzi, panggilan lapangan Ali Fauzi saat di medan tempur mengatakan, munuculnya video di Instagram yang memperlihatkan seorang anggota polisi menyuapkan makanan kepada narapidana teroris yang kedua tangannya diborgol dalam bus saat perjalanan menuju Nusakambangan, bisa menjadi penyulut kemarahan mereka yang sepaham dengan para napi teroris.

''Jadi kelompok ini sangat terprovokasi dengan video yang beredar luas itu,'' ungkap Ali Fauzi.

Ali Fauzi yakin pelakunya adalah kelompok bergerak 4 hingga 5 tahun yang lalu. ''Kelompok ini berafiliasi dengan ISIS,'' ujarnya.

Mengapa yang jadi sasarannya gereja? Ali membeberkan, sesungguhnya aksi serupa pernah terjadi tahun 2000. Gerakan serentak saat itu ada di sembilan kota, termasuk diantaranya di Batam, Pekanbaru, Mojokerto, Bandung dan Jakarta dengan pengiriman 25 paket bom.

''Yang beda modelnya, antara dulu dan sekarang,'' katanya.

Dalam kejadian ini, menurut Ali Fauzi, polisi tidak berarti kecolongan. Karena pada dasarnya polisi tahu akan ada balasan, hanya tidak diketahui pasti kapan dan dimana akan terjadi.

Di negara mana pun, hal seperti bisa saja terjadi, termasuk di Amerika Serikat. Jika kelompok teroris mendapat tekanan, maka yang di bawah akan bergerak.

''Mungkin polisi tahu, tapi tak tahu di mana dan kapan,'' katanya.

Kelompok pengebom ini, menurutnya tidak masuk dalam perakit bom besar. Kalaupun ada kebakaran itu hanya efek samping. Bukan karena efek residunya. Yang muncul api dan terbakar itu ban, tangki bensin dan lainnya.

Sedangkan asap yang membumbung tinggi itu juga akibat efek samping benda-benda seperti ban yang terbakar.

Asap tinggi itu bukan efek residu, makanya warna asapnya hitam bukan putih. Sementara dominan warna asap yang muncul tadi adalah hitam.

''Kalau warna asap juga bisa dipelajari bahan peledaknya dari apa. Tergantung bahannya,'' ungkap Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian ini.

Polisi yang olah TKP, katanya, akan bisa melihat, apakah itu dampak residu atau bukan. Bisa dicocokkan dengan bahan-bahan yang terbakar di sekitar kejadian. Jika ada kesamaan pola, maka dengan mudah mengidentifikasinya.

Terkait adanya ibu tega mengajak anaknya melakukan bom bunuh diri, menurut analisa Fauzi, ada beberapa kesimpulan.

Kemungkinan si ibu ini keluarga napi teroris, mungkin suaminya masih dalam tahanan, atau anaknya juga dipenjara.

Bisa juga, suaminya meninggal di Syiria atau di Irak. ''Perlu dicari tahu,'' katanya. ***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww