Usai Digulung Tsunami, Subaini Kehilangan Anak Gadis dan Bayinya

Usai Digulung Tsunami, Subaini Kehilangan Anak Gadis dan Bayinya
Subaini bersama putranya, Riski, di penampungan pengungsi korban gempa di Palu. (grid.id)
Senin, 08 Oktober 2018 15:53 WIB
PALU - Nama aslinya Subaini, namun wanita berusia 42 tahun ini biasa dipanggil Enteng. Enteng dan tiga anaknya turut digulung tsunami yang menerjang Pantai Talise di Palu, Sulawesi Tengah, usai gempa 7,4 SR, Jumat (28/9) lalu.

Dikutip dari grid.id yang melansir kompas.com, Enteng menceritakan, dirinya merupakan tulang punggung keluarga. Ia menghidupi ketiga anaknya dengan berjualan pop es di pinggir Pantai Talise.

Pesta Festival Pesona Nomoni 2018 yang dilaksanakan Pemerintah Kota Palu baginya adalah kesempatan mencari untung.

''Saya memperkirakan akan banyak yang membeli es jualan saya. Karena pasti banyak sekali pengunjungnya,'' kata Enteng yang tinggal di Kelurahan Balaroa, Kota Palu.

Benar saja naluri wanita ini, es batu yang dibawanya telah habis sebelum festival dibuka.

Orang-orang yang datang sejak siang telah memborong dagangannya, sejumlah rupiah pun ia simpan.

''Alhamdulillah, anak-anak bisa makan kenyang nanti," kenang Enteng''.

Menjelang sore, persediaan es batu menipis, sebelum habis ia harus bergegas mencari lagi. Ia titipkan lapak jualannya kepada anak tertuanya, Mawar (14).

Gadis yang tengah beranjak dewasa ini pun diminta menggendong Nur Adiba (bayi 8 bulan) dan mengawasi adiknya, Riski (4).

Enteng pun melangkah mencari es batu lewat jalan cumi-cumi. Belum lama melangkah bumi yang dipijaknya tiba-tiba bergoyang hebat.

Ia pun bingung tak tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran Enteng kacau. Ia hanya mengingat waktu itu air bah datang menerjang dirinya.

Ia teraduk-aduk dengan beton penggalan anjungan Pantai Talise yang terlepas, kayu dan benda-benda lainnya.

''Saya berusaha menyelamat diri tapi tidak bisa, saya terasa diaduk-aduk dengan beton keras,k' katanya sedih.

Setelah berjuang dalam hantaman tsunami, yang pertama ia ingat adalah ia sudah terbaring di atas seng atap rumah warga.

Enteng baru menyadarinya jika dinding rumah ini sudah roboh. Ia terkulai lemah bersama sampah dan material lainnya.

Di mana-mana terdengar suara minta tolong, dia sendiri tidak mampu bergerak.

Peristiwa ini seperti mimpi, ia coba meyakinkan dirinya bahwa yang sedang ia alami ini bukan mimpi.

Tiba-tiba Enteng sadar, ia ingat anak-anaknya. Saat itu ia merasa memiliki tenaga yang sangat kuat. Ia bangkit dan berjalan ke arah tempat jualannya.

Ya, dia ingat ketiga anaknya! Mawar, Riski dan Nur Adiba. Di mana mereka? Ia pandangi tempat jualannya, tidak ada apapun kecuali sampah dan materi yang berhamburan.

Ia perhatikan lagi, temaram senja tak menghalangi matanya untuk mencari anak-anaknya. Enteng sapu pandangan ke sekitar, tidak ada anaknya.

Yang ia saksikan adalah jasad-jasad yang bergelimpangan, ia tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal. Ia juga tidak ingat apakah di antara yang terbaring ini adalah keluarganya, tetangganya atau teman sesama pedagang.

"Saya sedih, tidak ada anak saya tiga-tiganya," kata Enteng lirih.

Lututnya tiba-tiba lemah, ia sedih sesedih-sedihnya. Gelapnya malam tak bisa menyembunyikan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya di pantai yang porak-poranda.

Namun tangis Enteng seperti tak berarti, karena ada banyak suara minta tolong kesakitan yang menyayat di sepanjang Pantai Talise.

Malam itu Pemerintah Kota Palu telah menjanjikan Festival Pesona Nomoni 2018 yang megah dan meriah, lampu dan kembang api bergoyang bersama musik dan nyanyian.

Kini kemeriahannya berganti dengan lolongan kesakitan tatusan orang dan rasa kehilangan yang sangat.

Suara musik berganti gemuruh laut yang murka, yang membawa berton-ton air dan menabrakkan pada siapa saya yang ada di depannya.

Enteng, wanita perkasa ini luruh. Air matanya mengalir deras, ketiga anaknya direnggut gelombang tsunami di depan matanya.

Bulan yang benderang di angkasa menerangi wajahnya. Luka-luka di sekujur tubuhnya mulai terasa nyeri. Kulit tangannya terparut entah oleh benda apa, juga kakinya berdarah-darah tak tahu disebabkan oleh apa.

Enteng kehilangan segalanya, dagangan yang menghidupinya sirna. Ketiga anaknya entah di mana. Dan sekujur tubuhnya penuh luka, jangan ditanya rasa yang ada di dalam dadanya.

Beruntung salah satu anak Enteng yakni Riski, secara ajaib juga selamat dari amukan tsunami. Kini Enteng dan riski berada di tenda pengungsian di kota Palu.

"Saya tidak tahu setelah ini bagaimana, saya masih memikirkan 2 anak yang hilang," kata Enteng.

Tawaran pindah ke luar daerah dari saudaranya ia tolak. Ia lebih memilih hidup di Palu yang sudah puluhan tahun dijalani.

Enteng memang wanita perkasa, sejak ditinggal lari suaminya sudah menghidupi Mawar, Riski dan Nur Adiba. Suaminya berasal dari Paguyaman, Gorontalo. Ia ditelantarkan begitu saja saat mengidam anak ketiganya, Nur Adiba.

''Mungkin dia sudah menikah lagi di Paguyaman, katanya anak-anak mau dibiayai sekolahnya tapi sampai sekarang tidak pernah ada,'' katanya tegar.

Di tempat pengungsian Kelurahan Kamonji, ia bertahan hidup dengan Riski. Ada empat keluarga lain yang nasibnya sama.

Beberapa kenalan dan saudaranya mengulurkan bantuan sekadarnya untuk bertahan, namun belum cukup mengganjal perut Riski dan dirinya.

Ia pun melapor ke kantor polisi untuk minta bantuan, banyaknya orang antre mengurungkan niatnya. Dengan tubuh penuh luka-luka ia pulang sambil menyeret kakinya.

"Mawar dan Nur Adiba harus ditemukan, walau sudah meninggal," katanya sedih.

Enteng sudah tidak punya harta benda. Satu-satunya yang dimiliki saat ini adalah Riski, anak keduanya. Ia harus memikirkan kehidupan anak lelakinya setelah kehidulan Kota Palu normal kembali.

Akibat gempa dan tsunami memang memilukan, ia terlunta-lunta dan sengsara. Namun ia tak mau menyerah, ia yakinmasih mampu melanjutkan hidup bersama Riski.***

Editor:hasan b
Sumber:grid.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww