Israel Semprotkan Herbisida dari Udara, Tanaman Petani Gaza Mati

Israel Semprotkan Herbisida dari Udara, Tanaman Petani Gaza Mati
Petani Gaza memperhatikan tanaman yang mati di lahan pertaniannya. (kompas.com)
Jum'at, 11 Januari 2019 09:24 WIB
GAZA - Tanaman di lahan pertanian petani di Jalur Gaza mati gara-gara herbisida yang disemprotkan Israel dari udara. Penyemprotan herbisida ini sudah dilakukan Israel sejak tahun 2014 lalu.

Dikutip dari republika.co.id, langkah Israel ini dikecam sejumlah organisasi hak asasi manusia. Mereka menyeru Israel menghentikan penyemprotkan herbisida di Jalur Gaza. Sebab, zat itu tak hanya merusak tanaman, namun juga membahayakan kesehatan manusia.

Al Mezan Center for Human Rights in Gaza, Gisha Legal Center for Freedom of Movement dan Adalah telah menulis surat kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Penasehat Militer Jenderal Sharon Afek dan Jaksa Agung Avivhai Mandelblit.

Organisasi hak asasi manusia itu menyampaikan tuntutan mendesak agar penguasa Israel menahan diri dari melakukan penyemprotan kembali herbisida melalui udara di dalam Jalur Gaza dan di daerah sekitar. 

Menurut laporan media dan keterangan dari warga Jalur Gaza, pada 4 Desember militer Israel menyemprotkan herbisida dari udara di atas daerah di dalam Jalur Gaza dan di dekat pagar yang memisahkannya dari Israel.

''Banyak tanaman yang tumbuh ladang di dekat pagar itu di dalam Jalur Gaza rusak akibat penyemprotan tersebut,'' kata Kantor Berita Palestina, WAFA, Kamis.

Pada Desember 2015, militer Israel mengkonfirmasi militer menggunakan pesawat untuk menyemprotkan herbisida di dekat pagar untuk membersihkan medan tersebut.

Para petani dan organisasi lokal di Jalur Gaza telah melaporkan bahwa penyemprotan tersebut telah dilakukan sejak 2014. Pada Juni 2016, Gisha, Adalah dan Al Mezan mengajukan keluhan atas nama delapan petani dari Jalur Gaza, yang tanaman mereka rusak akibat penyemprotan, dan menyeru otoritas Israel agar menahan diri dari perbuatan itu dan memberikan ganti rugi ke petani. Tapi seruan tersebut tak berhasil.

Dalam surat yang diajukan pada Senin (7/1), ketiga organisasi itu menekankan bahwa penyemprotan tersebut adalah perbuatan yang sangat merusak, melanggar hak asasi dasar kemanusiaan dan melanggar hukum Israel sendiri serta internasional.

Surat itu juga mengatakan bahwa sekalipun penyemprotan tersebut pada kenyataannya hanya dilakukan di dalam Israel, bahan kimia yang digunakan itu dibawa angin melintasi perbatasan ke Jalur Gaza, dan mengakibatkan kerusakan parah pada tanaman dan kerugian keuangan dalam jumlah besar bagi petani setempat.

Penyiang gulma atau herbisida (dari bahasa Inggris herbicide) adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan ''asing''.

Pada 2016, Gisha menyatakan bahwa bahan kimia yang digunakan dalam penyemprotan tersebut meliputi ''glyphosate'', yang telah dinyatakan sebagai karsinogen (penyebab kanker) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Zat ini telah dilarang di banyak negara di seluruh dunia.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi

GoNews TGPF Gagal Ungkap Penyerang Novel, KPK Minta Jokowi Bentuk Tim Pencari Fakta Baru
GoNews Pengacara TW Cambukkan Ikat Pinggang ke Jidat Hakim PN Jakpus yang Tengah Bacakan Putusan
GoNews Babi Hutan Berjalan di Atap Rumah Hebohkan Warga Banjarnegara, Begini Penampakannya
GoNews Ketahuan Hamil 4 Pekan, Ketua Rombongan 7 Kloter 38 Dipulangkan
GoNews Mini Bus Bermuatan 25 Penumpang Terjun ke Jurang di Jalan Lintas Sumatera, 4 Tewas
GoNews Cegah Penumpang KM Tidar Bunuh Diri, Kepala Stasiun Radio Pantai Tercebur ke Laut dan Hilang
GoNews Kapolri Ungkap 400 Kombes Berebut Jadi Brigjen, Banyak yang Cari Dukungan dan Keluarkan Uang
GoNews Sempat Terbang dan Kembali ke Embarkasi, Pesawat Garuda Pengangkut Jamaah Haji Delay 11 Jam
GoNews Pemerintah Alokasikan Rp10 Triliun untuk Tunjangan Pengangguran
GoNews Korban Salah Tangkap, Disiksa, Dipaksa Mengaku Membunuh dan Dipenjara 3 Tahun, 4 Pengamen Tuntut Ganti Rugi
GoNews Setelah Kisah Pilunya Tinggal di Toilet Sekolah Diberitakan Media, Bantuan Mengalir kepada Guru Honor Nining
GoNews Arab Saudi dan Negara Teluk Dukung Kebijakan China Penjarakan 1,5 Juta Muslim Uighur dan Dilarang Shalat
GoNews Pembangunan Ibukota Baru di Kalimantan akan Dimulai, Ini Persiapannya
GoNews Bali Pernah Diterjang Tsunami yang Merenggut Ribuan Jiwa
GoNews Ribuan Ikan Terdampar di Pantai Sebelum Gempa M 6,0 Guncang Bali, Begini Penjelasan BMKG
GoNews Anak Guru Mengaji dari Solok Selatan Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2019
GoNews Usai Bertemu Prabowo, Amien Rais: Sampai Sekarang Pun Alhamdulillah Masih Istiqomah
GoNews Konsumsi Rokok Penduduk Miskin Indonesia Terbesar Kedua, Kalahkan Telur dan Daging Ayam
wwwwww