Usai Dipanggil Bergantian ke Kamar, 3 Gadis Cantik Bunuh Ayah Kandung

Usai Dipanggil Bergantian ke Kamar, 3 Gadis Cantik Bunuh Ayah Kandung
Ilustrasi jasad. (pkc)
Jum'at, 23 Agustus 2019 16:29 WIB
MOSKOW - Tiga wanita cantik bersaudara kandung di Moskow, Rusia, menikam dan menghantam ayahnya yang sedang tidur sehingga tewas.

Dikutip dari poskotanews.com, BBC melansir, pembunuhan tersebut  terjadi, pada Juli 2018 lalu. Ketiga wanita itu didakwa melakukan pembunuhan, dan kini menjadi perdebatan besar di Rusia. Lebih 300.000 tanda tangan dikumpulkan dalam sebuah petisi guna meminta agar mereka dibebaskan.

Peristiwa mengenaskan itu terjadi pada 27 Juli 2018 malam, ketika Mikhail Khachaturyan memanggil ketiga putrinya itu secara bergantian ke kamarnya.

Pria berusia 57 tahun itu memarahi mereka, karena tidak membersihkan apartemen dengan benar. Ia juga menyemprotkan gas merica ke wajah mereka.

Tak lama sesudahnya, ketika Mikhail tidur, ketiga remaja putri itu menyerangnya dengan pisau, martil, dan semprotan merica. Sang ayah meninggal dunia akibat luka di kepala, leher, dan dada. Ia ditemukan tak bernyawa dengan 30 luka tusuk.

Ketiga gadis ini kemudian memanggil polisi dan mereka ditangkap di lokasi.

Penyelidikan kemudian menemukan adanya sejarah panjang kekerasan dalam keluarga itu. Mikhail secara rutin memukuli dan menyiksa anak-anaknya dalam tiga tahun terakhir. Ia juga memenjara mereka dan menyiksa mereka secara seksual.

Bukti mengenai perihal ini dikutip dalam surat dakwaan.

Jadi Kontroversi

Kasus ini segera menjadi bahan kontroversi di Rusia. Pegiat hak asasi manusia berpendapat ketiga remaja putri ini bukan penjahat, melainkan korban. Terutama karena tak ada cara lain bagi mereka untuk minta tolong dan melindungi diri dari ayah mereka yang kejam.

Namun di Rusia tak ada hukum yang melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Melalui perubahan hukum tahun 2017, seorang individu yang memukul anggota keluarganya – tapi tak sampai membuat korban masuk rumah sakit – akan kena denda atau kurungan selama dua minggu.

Polisi di Rusia umumnya memperlakukan KDRT sebagai ''masalah keluarga'' dan hampir tak menyediakan bantuan sama sekali soal ini.

Ibu dari tiga remaja putri ini juga mengalami pemukulan oleh Mikhail, dan pernah minta tolong ke polisi beberapa tahun sebelumnya.

Para tetangga juga pernah mengadu ke polisi karena takut pada Mikhail, tapi tak ada tanda bahwa polisi melakukan tindakan apa-apa.

Saat pembunuhan terjadi, ibu ketiga remaja itu tak tinggal bersama mereka. Mikhail melarang ketiganya untuk mengontak ibu mereka.

Menurut penilaian psikiatris, ketiga perempuan muda ini hidup dalam isolasi dan mengalami post-traumatic stress (PTSD).

Penyelidikan Lambat

Kasus ketiga remaja ini berjalan lambat. Mereka tidak lagi dalam tahanan, tapi dikenai rangkaian batasan: mereka tak boleh bicara satu sama lain dan tak boleh bicara kepada wartawan.

Kejaksaan berkeras bahwa pembunuhan ini direncanakan. Ketika sang ayah tidur, ketiga remaja ini merancang aksi mereka, mengambil pisau sejak paginya. Menurut jaksa, motif mereka adalah balas dendam.

Jika terbukti bersalah, ketiganya bisa dihukum hingga 20 tahun penjara. Tuduhan kepada mereka adalah memegang martil, membawa pisau dan semprotan merica.

Namun pihak pengacara mengatakan pembunuhan itu adalah tindakan bela diri.

Hukum kriminal Rusia membolehkan bela diri tidak hanya dalam kasus serangan langsung, tetapi juga dalam kasus ''kejahatan berkepanjangan'' seperti misalnya penyanderaan yang diiringi penyiksaan.

Pengacara berkeras bahwa ketiganya adalah korban dari ''kejahatan berkepanjangan'' dan harus segera dibebaskan.

Mereka berharap kasus ini dihentikan karena penyelidikan menemukan bukti kekerasan yang dilakukan Mikhail terhadap anak-anaknya sudah terjadi sejak tahun 2014.

Pegiat hak asasi manusia dan berbagai pihak di Rusia kini ingin ada perubahan hukum, termasuk mewajibkan pemerintah menyediakan penampungan, perintah penahanan dan kursus untuk menangani perilaku agresif.***

Editor:hasan b
Sumber:poskotanews.com
Kategori:SerbaSerbi

       
        Loading...    
           
GoNews Diantar Pacar Tengah Malam dan Ngobrol Hingga Pukul 23.30 WIB, Biduan Ditemukan Tewas Waktu Subuh
GoNews Putrinya Minta Restu Menikah, Ayah Berikan Syarat Harus Bersedia Digauli, Begini Akibatnya
GoNews Pasca Ledakan Bom di Mapolrestabes Medan, Polisi Buru Seorang Pimpinan Pengajian
GoNews Istri Polisi Hilang 2 Hari, Ditemukan Waka Polres dalam Kamar Hotel bersama Polisi Lain
GoNews Dicabuli Kakek dan Sepupu Sejak SMP, Siswi Kelas II SMA Ini Kini Hamil 6 Bulan
GoNews Bus Sinar Jaya dan Arimbi Tabrakan di Tol Cipali, 7 Penumpang Tewas, Ini Identitas Korban
GoNews Kapolri: Bukan Rahasia Umum, Banyak Kapolres Minta Jatah Proyek, Nanti Saya Carikan Pemain Cadangan
GoNews Militer Israel Bombardir Pemukiman Warga Palestina, 22 Muslim Wafat dan 66 Terluka
GoNews Dijadikan PSK buat Bayar Utang, Diracun Suami Saat Hamil 8 Bulan
GoNews Menteri Keuangan Terbitkan Aturan Baru Tentang Iuran BPJS Kesehatan
GoNews Kapolsek Cempa Bersimpuh di Hadapan Massa untuk Selamatkan Nyawa Pekerja Tambang
GoNews Ditusuk Suami Berkali-kali, Wanita Hamil Tua ke Rumah Sakit Sendirian dalam Kondisi Berdarah-darah
GoNews Habib Rizieq Perlihatkan Surat Pencekalan, Imigrasi Mengaku Belum Tahu
GoNews Istri Berlumuran Darah dalam Kamar Mandi, Suami Ditemukan Tergantung di Kebun
GoNews MUI Pusat Dukung Imbauan MUI Jatim Agar Pejabat Jangan Ucapkan Salam Semua Agama, Ini Alasannya
GoNews Memalukan, Anggota Fraksi PSI Lemparkan Dokumen RAPBD ke Lantai Saat Rapat, Mengaku Spontanitas
GoNews MA India Putuskan Umat Hindu Boleh Bangun Kuil di Tempat Berdirinya Masjid Berusia 450 Tahun
GoNews Mengaku Anggota TNI, Kuli Bangunan Berhasil Kuras 3 Janda Luar Dalam
wwwwww