Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
20 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
13 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
13 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
13 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
18 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  Badminton
Pesona Indonesia 2016

Kata Menpar Arif Yahya, Jogja Itu Ubud-nya Pulau Jawa, Makanya Bisa Menyedot 60% Wisatawan

Kata Menpar Arif Yahya, Jogja Itu Ubud-nya Pulau Jawa, Makanya Bisa Menyedot 60% Wisatawan
Indahnya kawasan Malioboro Jogja. (net)
Selasa, 23 Februari 2016 14:11 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Jogja memang identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Mulai dari kuliner, peninggalan purbakala, heritage keraton, arsitektural gedung-gedung peninggalan Belanda, sampai seni tradisi pun hidup dan berkembang di sana.

Jogja itu menurut Arief Yahya, seperti “Bali”-nya Pulau Jawa. Culture-nya sangat kental, dan itulah daya tarik 60% pariwisata ke Indonesia. Namun sayang jumlah kunjungan Wisman ke Jogja menurt Menteri Arif, belum naik dari 1 persen. "Akses masih menjadi persoalan mendasar untuk Joglosemar (Jogja Solo Semarang) dengan ikon Borobudur. Atraksinya, sudahlah saya tidak perlu berbusa-busa, sudah pasti keren, budayanya kuat, alamnya bagus, kulinernya wow, seni pertunjukan juga selalu ada, konsisten. Amenitasnya, juga sudah lengkap, apa saja ada di sana,” ujar Menpar Arief Yahya, Selasa (23/02/2016).

Jika airport yang baru dengan landasan yang panjang sudah terbangun menurtnya, lalu jalur kereta menuju Borobudur tuntas, maka promosi Joglosemar bisa digeber habis-habisan. Saat itulah, tiga jangkar Jawa Tengah DIY, Jogja-Solo-Semarang akan terkoneksi dengan baik. Semua objek wisata yang potensial yang selama ini belum tergarap dengan baik, secara otomatis akan terdongkrak. "Swasta pun akan ikut berinvestasi di sana, masyarakat juga hidup dengan pariwisata," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Istri ABRI (PIA) Ardhya Garini, Bryan Rachmawati bersama sejumlah pengurus organisasi Persatuan Istri Prajurit TNI Angkatan Udara dan Yasarini Pusat, sempat berkunjung ke Jogja. Persisnya di Rumah Budaya dan Agrowisata Baru, Omah Kecebong, di Sendari, Sleman.

"Sentuhan budaya Jogja itu sangat dalam. Orang yang berwisata ke Jogja, bisa merasakan atmosfer budaya Jawa yang sangat kental," cerita Bryan Rachmawati.

Dia disana juga bisa membatik, mengenal wayang suket, jelajah alam pedesaan dengan gerobak sapi, yang sudah jarang, bahkan hampir tidak ditemukan lagi di daerah lain. Di Jogja semuanya menunjukkan kekuatan local wisdom. Sementara Bali, dikenal oleh wisatawan mancanegara. Karena upacara adat, ngaben, pengairan subak, kesenian, patung, dan tradisi dalam memperingati hari-hari penting buat masyarakat Bali.

Penggagas Omah Kecebong, Hasan Setyo Prayogo menyebut, suasana pedesaan, tanaman padi, kebun klengkeng, pohon jambu, dan banyak pepohonan langka itu menjadi kekuatan Jogja. Termasuk rumah dengan desain kuno, ala Jawa, rumah kayu yang dijadikan resort, lengkap dengan asesorinya yang serba Jawa. "Kalau di Bali ada Ubud, kalau di Jawa ada di Jogja, suasana yang alami dan bisa merasakan sensasi kembali ke zaman silam,” ujar Hasan.

Selain Jogja, Solo, Semarang juga Bandung yang sudah mulai banyak inbound yang menjual paket-paket alam. “Sudah banyak group pelajar-pelajar Singapore yang memilih paket ke Jogja, Solo, Semarang, back to nature. Ada kegiatan menanam padi, main lumpur, membatik, dan lainnya. Dan itu akan semakin banyak jumlahnya, karena di Singapore, tidak ada tempat bermain seperti itu,” kata Sulaiman, Staf VITO di Singapura. (*/dnl)

wwwwww