Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sebagian PNS Akan Dipindahkan ke Desa, Ini Kriterianya
Nasional
20 jam yang lalu
Sebagian PNS Akan Dipindahkan ke Desa, Ini Kriterianya
2
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: "Saya bisa Menghilang Kapan Saja"
Kesehatan
22 jam yang lalu
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: Saya bisa Menghilang Kapan Saja
3
Mendagri Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan pada Persiapan Pembelajaran Tatap Muka
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Mendagri Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan pada Persiapan Pembelajaran Tatap Muka
4
Padat Karya Kemendes PDTT Sasar 5 Juta Pekerja Desa
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Padat Karya Kemendes PDTT Sasar 5 Juta Pekerja Desa
5
Cyber Indonesia Laporkan Anji ke Polisi
Hukum
21 jam yang lalu
Cyber Indonesia Laporkan Anji ke Polisi
6
Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
Umum
21 jam yang lalu
Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Wonderful Indonesia 2016

Strategi Jitu Kemenpar, Goda Publik Sosmed dengan Keindahan Destinasi Wisata

Strategi Jitu Kemenpar, Goda Publik Sosmed dengan Keindahan Destinasi Wisata
Ilustrasi Sosial Media.
Senin, 29 Februari 2016 16:49 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Sosial Media (Sosmed) suka atau tidak suka, sudah seperti negara tersendiri, punya rakyat, punya komunitas. Karakternya beragam, ada yang pro, ada yang kontra, ada yang ekstrim, ada yang fanatik, ada yang happy, ada yang unhappy, tetapi itulah suara-suara hati dan pikiran publik yang terbaca dari Medsos.

“Kalau bicara Strategi Media, ada empat channel yang kami pakai. Paid Media atau media berbayar, Own Media atau media yang kita miliki sendiri, Social Media atau media sosial, dan Endorser Media atau menggunakan orang perpengaruh untuk mempromosikan destinasi kita. Saya biasa menyingkat dengan POSE,” jelas Menpar Arief Yahya, di Jakarta.

Sementara itu menurut Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dadang Rizki, ia justru menterjemahkan teori Menpar Arief Yahya, dengan mulai membuat kanal “Cerita Destinasi” seperti di Facebook.

Foto-foto destinasi, berikut dengan sekelumit cerita seputar objek wisata itu, menjadi daya tarik netizen untuk berkunjung dan share ke friends-nya di Medsos itu. Pria asal Jawa Barat itu mengatakan bahwa peran masyarakat di sosial media juga membantu pengembagan destinasi yang dimiliki Indonesia.

”Silakan selfie, atau foto-foto di tempat wisata kita, silakan mengambil gambar yang bagus, lalu tampilkan di Cerita Destinasi. Kami memberi ruang untuk mengirimkan karya foto dan cerita Anda kok. Narsis demham latar belakang tempat wisata, lalu upload di media sosial manapun, akan membuat destinasi kita lebih luas tersebar ke mana-mana,”ujar Dadang.

Era selfie memang tidak bisa dihindarkan. Semua orang paling suka kalau foto, lalu di upload di medsos, dan dikomentari banyak followers atau friends-nya. ”Sisipkan objek wisata dan keindahan alam Indonesia! Karena itu akan membuat destinasi semakin dikenal, dan foto selfie-nya lebih keren,” ucap Dadang.

Orang Indonesia konon paling aktif di Medsos. Di akhir tahun 2015 saja, Opera Mediaworks dan Mobile Marketing Association (MMA) merilis data terbaru tentang perilaku pengguna smartphone di negara P6 (The Power 6), yakni India, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, serta Australia, termasuk Indonesia. Dari data itu, pengguna perangkat mobile Indonesia lebih sering mengakses situs media sosial dengan persentase 38 persen.

Tak hanya Indonesia, negara lain yang memiliki jumlah pengakses situs media sosial cukup besar adalah India, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Selain media sosial, dua konten yang juga sering diakses pengguna perangkat mobile di Indonesia adalah toko aplikasi untuk perangkat mobile (mobile store) dengan persentase 22 persen dan konten olahraga dengan persentase 12 persen.

Penggunaan feature phone yang masih cukup tinggi disebut jadi alasan akses ke mobile store masih tinggi di Indonesia. Sebab, pengguna feature phone membutuhkan kanalmobile store untuk mengakses konten dan aplikasi.

Bahkan disebutkan 88,5% unique user di mobile store dan portal operator berasal dari feature phone. Selain data pengguna konten mobile, Opera juga merilis data tentang perilaku dan minat pengguna perangkat mobile di negara-negara tersebut. Dari data yang dikumpulkan diketahui bahwa ada 4 segmen konsumen mobile, yakni Savvy Shoppers, High-Tech Enthusiasts, Travelers, dan Gamers.

Menurut data dari PATA, di Indonesia, konsumen mobile yang paling besar adalah Savvy Shoppers dan Travelers. Negara lain yang juga memiliki jumlah Savvy Shoppers terbesar adalah India, Malaysia, dan Vietnam. ”Cara pak Menteri Arief Yahya yang melek sosial media itu tep. Keindahan alam kita banyak menghiasi sosial media. Ke mana saja orang berjalan-jalan, ujungnya pasti upload di Facebook,” ujar Sekjen Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA), Ratna Soebrata.

Hal itu juga dirasakan Bidang Promowisata Dispar Bali, iaterkejut ketika turis asing di Bali tahu Karangasem dan Bali. "Saya sempat bertanya, bagaimana dia memesan tiket hingga Bali, dia menjawab, kalau pesanya melihat internet, pesan di internet, bayar di internet, dan saya datang ke negaramu,” ujar Bidang Promosi Dinas Pariwisata Karangasem, Bali, I Nyoman Adi Sudarmaya. (*/dnl)


wwwwww