Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
16 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
13 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
14 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
5
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
12 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
18 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Badminton

Cerita Soal Pencalonannya Jadi Gubernur DKI Melalui Parpol, Ahok: Saya Ngaku Deh, Itu Atas Nasehat Presiden, Pak Jokowi Itu Bos Politik Saya

Cerita Soal Pencalonannya Jadi Gubernur DKI Melalui Parpol, Ahok: Saya Ngaku Deh, Itu Atas Nasehat Presiden, Pak Jokowi Itu Bos Politik Saya
Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok).
Minggu, 14 Agustus 2016 12:41 WIB
JAKARTA - Gunernur DKI Basuki Tjahja Purnama (Ahok) kemarin, buka-bukaan soal keputusannya maju di Pilgub DKI lewat dukungan parpol. Kata dia, ini dilakukan atas saran Presiden Jokowi.

"Pak Jokowi itu bos politik saya, saya tak mau berbeda pendapat dengan beliau. Hmm, sepertinya Ahok nyaman bener ya berada di bawah Jokowi," canda Ahok, Sabtu (13/08/2016) kemarin.

Cerita itu disampaikan Ahok saat menjadi pembicara dalam konferensi nasional Young on Top, di Balai Kartini, Jakarta, kemarin. Di hadapan hadirin, Ahok bercerita tentang situasi politik termutakhir. Tak terkecuali rencananya untuk maju kembali di Pilgub DKI 2017.

Ahok bercerita alasan lain kenapa akhirnya mengambil jalur parpol. Padahal sudah ada 1 juta KTP di tangan. Dia beralasan, keputusannya itu diambil setelah bertemu Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengingatkan akan risiko jika maju lewat jalur perseorangan. Bahwa tidak mudah memverifikasi 1 juta KTP. Dari pertemuan itu, Ahok akhirnya berani mengambil jalur parpol. Ahok memang tidak lugas, keputusannya itu karena Jokowi. Dia hanya bilang, tidak mau berbeda pendapat dengan bosnya di politik. "Saya harus tetap di bawah seorang Jokowi," kata Ahok.

Memang keputusan meninggalkan jalur perseorang itu bukan tanpa risiko. Dia dibully habis-habisan. Tapi, lanjut dia, Jokowi pun begitu. Sering dibully karena dinilai hanya sebagai petugas partai. Namun, kata Ahok, di balik itu ada rencana lain yang lebih besar. "Beliau itu (sebenarnya) bukan petugas partai. Beliau orang yang sangat sabar menanti saat yang tepat untuk 2019," ungkapnya.

Di Pemilu 2019, Pilpres dan Pileg digelar bersamaan. Saat itu, Ahok menggambarkan, Jokowi akan punya posisi sangat kuat, sehingga mampu mengajak parpol untuk mendukungnya. Dari awal, capres bisa menentukan siapa calon anggota DPR, dan para menterinya. Dengan begitu, sistem presidensil sangat kuat. Tidak seperti saat ini yang dinilai semi parlementer. Sebab semua keputusan mesti dirundingkan dulu dengan DPR. "Kita harus sabar. Menghadapi pertempuran itu harus ada hitung-hitungannya," ujar Ahok.

Eks Bupati Belitung Timur itu pun menegaskan, dukungan dari PDIP masih terbuka lebar. Kata dia, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri memintanya untuk sabar. PDIP pasti akan memilih calon yang terbaik. "Ibu (Mega) bilang tunggu saja. Maunya orang Jakarta seperti apa," ungkapnya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa partainya masih menggodok nama yang akan diusung di Pilgub DKI 2017. Dia bilang, Jumat malam memang ada pertemuan pengurus DPP dengan Megawati, di kediaman Mega. Hanya saja, belum memutuskan calon DKI. Partai lebih memprioritaskan pembahasan pilkada di daerah-daerah lain seperti Papua Barat, Gorontalo, Banten, dan Sulawesi.

"Semuanya mendapat tempat yang sama untuk diperlakukan secara adil dan bagaimana perjuangan mempersiapkan pemimpin di daerah tersebut sama pentingnya dengan daerah lain," kata Hasto.

Sebelumnya, Hasto mengingatkan Ahok bahwa membangun Jakarta tidak bisa sendirian. Butuh kerja sama dengan partai politik untuk membangun Ibukota. Dia mencontohkan, Presiden Jokowi pada masa awal pemerintahan yang kesulitan karena minim dukungan partai politik. (***)

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Berbagai Sumber.
Kategori:Badminton, Olympic, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww