Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
21 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
16 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
15 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
14 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
19 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
14 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Home  /  Berita  /  Badminton

Hendardi: Jika Masih Hidup, Gus Dur Paling Lantang Tantang Intoleransi

Hendardi: Jika Masih Hidup, Gus Dur Paling Lantang Tantang Intoleransi
Ilustrasi Gus Dur. (net)
Minggu, 25 Desember 2016 16:57 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lebih tepat disebut sebagai tokoh kemanusiaan karena gagasan dan pemikirannya melampaui segala sekat yang secara profan seringkali digunakan sebagai alat penundukan dan penindasan.

"Cita-citanya bukan hanya memastikan kemajemukan Indonesia tetap terjaga tetapi juga sepenuhnya ditujukan untuk memenuhi hak asasi manusia yang merupakan artikulasi otentik sikap beragama yang sebenarnya," kata Hendardi dalam pernyataan tertulis, hari ini, Minggu (25/12/2016).

Hendardi menambahkan gagasan dan pikiran Gus Dur juga tersemai dalam memandu cita-cita Setara Institute, dimana Gus Dur menjadi salah satu pendiri organisasi ini.

Hendardi mengatakan jika menyimak situasi mutakhir Indonesia hari ini, Gus Dur pasti akan bersuara paling nyaring menentang berbagai aksi intoleransi, politisasi identitas, dan ancaman terhadap kemajemukan Indonesia.

"Meski tidak lagi bersuara, ajaran Gus Dur menyebar di banyak kalangan yang hari ini bahu membahu merawat kemajukan Indonesia," kata dia.

Mengenang Gus Dur adalah merawat kemajemukan dan kemanusiaan, kata Hendardi.

"Tidak ada obar penawar lain bagi bangsa yg majemuk kecuali terus menerus mengelola dan merawat kemajemukan sehingga menghasilkan produk kerukunan, toleransi, dan penghargaan terhadap kemanusiaan," tutur Hendardi. ***

wwwwww