Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
8 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
10 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
4 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
6 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
10 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Riau

Stabilitas Harga Sembako di Riau Tak Sesuai Janji, Noviwaldy Jusman: Bulog Harusnya Transparan

Stabilitas Harga Sembako di Riau Tak Sesuai Janji, Noviwaldy Jusman: Bulog Harusnya Transparan
internet
Jum'at, 18 Mei 2018 16:33 WIB
Penulis: Winda Mayma Turnip
PEKANBARU - Harga sembako di Riau ternyata terus merangkak naik sejak masa bulan Ramadhan. Hal ini menimbulkan kekecewaan di masyarakat, akibat janji - janji manis Bulog sebelumnya, yang mengatakan persediaan sembako untuk Riau sudah tersedia cukup semasa Ramadhan, sehingga harga - harga tetap stabil.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Noviwaldy Jusman ketika dikonfirmasi, Jumat, (18/5/2018) menegaskan rasa kecewa tersebut. Menurutnya, Bulog seharusnya bersikap jujur saja jika memang tidak sanggup menyuplai persediaan sembako.

"Seharusnya dia bisa melaksanakan fungsinya sebagai penyangga, menjamin suplai barang masuk pada saat bulan Ramadhan tercukupi. Makanya, Kkita imbau Bulog supaya transparan, kalau memang tidak sanggup, dibilang saja, jangan bilang cukup- cukup tapi malah mengecewakan seperti ini," ungkapnya.

Noviwaldy juga mengungkapkan, selama ini Bulog cenderung tidak mampu menepati janji atau menjamin ketersediaan sembako menjelang Ramadhan setiap tahunnya. Sehingga lonjakan harga selalu terjadi, ditambah pihak pedagang yang selalu latah dan memanfaatkan momen Ramadhan untuk menaikkan harga.

"Memang belum pernah terbukti dengan baik, bahwa Bulog bisa menjamin suplai sembako menjelang Ramadhan. Kenaikan harga ini biasanya antara suplai sembako tidak ditambah, padahal pola konsumsi masyarakat naik, dan kelatahan pedagang, tapi kalau pun pedagang latah itu menaikkan harga juga tidak akan lama, karena konsumen punya alternatif lain kalau suplainya banyak," tuturnya. ***

Kategori:Ekonomi, Riau, Voli
wwwwww