Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
20 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
15 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
14 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
13 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
18 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Umum
20 jam yang lalu
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Home  /  Berita  /  Badminton

Sesjen MPR Dorong Generasi Muda Paham Tata Negara

Sesjen MPR Dorong Generasi Muda Paham Tata Negara
Kamis, 07 Juni 2018 22:02 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sesjen MPR Ma’ruf Cahyono mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh ‘Indonesia Innovative Foundation’. "Generasi muda harus memiliki inovasi yang positif dalam rangka merawat Indonesia," ujar Maru’ruf Cahyono di hadapan ratusan peserta socialpreneur itu, Ruang GBHN, Nusantara V, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Pria asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu mengucapkan selamat datang di MPR. Disebut MPR merupakan rumah kebangsaan. Di rumah inilah kita membangun pikiran positif dalam berbangsa dan bernegara. Dipaparkan bahwa MPR merupakan representasi politik dan daerah. "Anggota MPR adalah gabungan anggota DPR dan DPD," ungkapnya.

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, Ma’ruf Cahyono mengatakan lembaga ini terus mengembangkan demokrasi dan mengawal kedaulatan rakyat. Meski MPR saat ini menjadi organ tata negara tak seperti dulu, yakni terstruktur dan tertinggi, namun perubahan yang terjadi tak mengurangi makna MPR sebab tugas hukum dasar yakni menetapkan undang-undang dasar tetap menjadi kewenangannya.

"Perubahan dari lembaga tertinggi menjadi lembaga setara dengan lembaga yang lain karena kuatnya tuntutan reformasi dari masyarakat terutama dari mahasiswa," ujarnya.

Sebagai lembaga yang mengurusi masalah konstitusi, Ma’ruf Cahyono menyebut MPR memiliki Badan Pengkajian. Di lembaga yang berisi 45 orang ini, bertugas memikirkan dan konsen menata tata negara. "Berpikir bagaimana sistem tata negara yang ideal," ungkapnya.

Selain Badan Pengkajian, Ma’ruf Cahyono menyebut MPR memiliki Lembaga Pengkajian. Anggota dari lembaga ini adalah para tokoh, akademisi, dan orang-orang yang terlibat langsung saat mengamandemen UUD Tahun 1945. Lembaga Pengkajian jumlahnya 60 orang. "Di lembaga ini juga membahas masalah kebangsaan," ujarnya.

Dalam masa reformasi, disebut MPR mengakomodasi tuntutan masyarakat akan dihapusnya dwi fungsi ABRI, kebebasan press, dan menciptakan pemerintahan yang bebas KKN. Semua tuntutan itu ditampung dalam konstitusi maupun Ketetapan MPR. Dirinya mengharap agar peserta acara itu membaca Ketetapan-Ketetapan MPR. "Baik yang masih berlaku atau tidak," ujarnya.

Disebutkanya, salah satu Ketetapan MPR adalah soal etika kehidupan berbangsa. "Ketetapan ini isinya bagus," tuturnya.

Di tap ini ada berbagai macam etika. Tak hanya soal etika yang diatur dalam ketetapan. Disebut ada pula Ketetapan Otda, Ketetapan Anti KKN, dan Ketetapan Demokrasi. "Kalau mau melihat, idealitanya ada semua," ucapnya.

Dengan adanya berbagai ketetapan tersebut, menurut Ma’ruf Cahyono, membuat kita tak apriori. "Sesungguhnya kita mempunyai perangkat yang bagus. Kalau tak bagus mungkin itu implementasinya," tambahnya.

Apa yang kita ketahui dalam masalah tata negara, menurut alumni Universitas Jenderal Soedirman itu menjadi bekal untuk merawat bangsa dan negara. "Tolong ini dipahami dan dilaksanakannya," harapnya.

Diharapkan generasi muda terus membangun ketahanan bangsa dan negara. "Dengan Pancasila sebagai jati diri. Generasi muda ke depan harus memiliki jiwa kompetitif, dan yang menang kompetisi adalah mereka yang siap," pungkasnya.***

wwwwww