Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
11 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
16 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
4
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
8 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
5
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
6 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
6
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Sepakbola
5 jam yang lalu
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Home  /  Berita  /  Badminton

Fahri Hamzah: Masih Mending Prabowo Hanya Dibohongi Rakyat, Lah Mahfud MD Dibohongi Kepala Negara

Fahri Hamzah: Masih Mending Prabowo Hanya Dibohongi Rakyat, Lah Mahfud MD Dibohongi Kepala Negara
Jum'at, 05 Oktober 2018 18:14 WIB
JAKARTA - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah setuju jika tanggal 3 Oktober diperingati sebagai Hari Antihoaks Nasional. Asalkan tokoh antihoaksnya dipimpin oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.

"Ya asal tokohnya jangan satu doang, harus banyak, yang menjadi korban kebohongan itu bukan hanya Pak Prabowo tapi Pak Mahfud MD juga," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (5/10).

Menurut Fahri, dua tokoh tersebut adalah korban kebohongan dari kalangan yang berbeda. Prabowo jadi korban kebohongan Ratna Sarumpaet sedangkan Mahfud adalah korban kebohongan pemerintah karena batal dipilih sebagai cawapres Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

"Pak Prabowo dan Pak Mahfud MD jadi dianggap sebagai ikon korban kebohongan dan mereka yang mengusulkan saya kira dua duanya bagus satu mewakili dibohongi negara satu diwakili dibohongi rakyat kan sempurna gitu kan," ungkapnya.

Fahri menyinggung batalnya Mahfud MD jadi Cawapres Jokowi. Padahal, Mahfudmengaku sudah diminta ukur baju dan berikan CV oleh Istana untuk persiapan deklarasi. Sayang, di menit terakhir, Jokowi memilih Ma'ruf Amin.

Fahri menilai, pemerintah juga melakukan banyak kebohongan. Tetapi hingga saat ini, lanjut dia, pemerintah tidak pernah meminta maaf atas segala kebohongan yang dilakukan pada masyarakat.

"Pemerintah juga berbohong rakyat juga berbohong Ratna Sarumpaet itu adalah rakyat dia berbohong dan dia sudah ngaku berbohong tapi pemerintah berbohong enggak pernah mengaku berbohong," ucapnya.

Sebelumnya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengusulkan tanggal 3 Oktober, saat Ratna Sarumpaet mengakui berbohong atas kabar penganiayaan yang menimpanya, sebagai Hari Anti-Hoaks Nasional.

"Untuk mencegah peristiwa terulang dan untuk membangun budaya bermedia sosial yang positif maka pada tanggal 3 Oktober 2018 PPP mengusulkan untuk diperingati atau ditetapkan sebagai Hari Anti-Hoaks Nasional," kata Wakil Sekjen PPP Achmad Baidowi dilansir Antara, Kamis (4/10). ***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:merdeka.com
Kategori:DKI Jakarta, Metropolitan, Voli, Olympic, Badminton
wwwwww