Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
14 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
12 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
16 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
4
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
12 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
5
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
15 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
6
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
13 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Badminton

Guru-Guru di Sekolah mesti Hati-hati Katrol Nilai Siswa

Guru-Guru di Sekolah mesti Hati-hati Katrol Nilai Siswa
Anggota Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati. (Foto: Dok. Erman/jk/DPR)
Senin, 15 Juli 2019 07:00 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati mengungkapkan, pengkatrolan nilai di rapor siswa bisa berdampak fatal. Alih-alih membantu Siswa, nilai tak jujur bisa berdampak drop out (DO) dari bangku kuliah.

"Karena (mahasiswa tersebut, red) memang tidak mampu mengikuti proses belajar mengajar, dan proses perkuliahan di jurusan yang diambil,” kata Esti usai mengikuti pertemuan Tim Kunspek Komisi X DPR RI, terkait Evaluasi Pelaksanaan Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2019 di Universitas Jambi, Jambi, Kamis (11/7/2019) lalu.

Politisi PDI-Perjuangan itu mengungkapkan, keluhan dari perguruan tinggi terkait pengkatrolan nilai rapor calon Mahasiswa oleh sekolah asal, tengah menjadi soal karena selama ini yang dijadikan acuan penerimaan mahasiswa baru adalah nilai rapor semester 1 sampai semester 5 di SMA dan sederajat.

Ia pun meminta, harus ada filter yang dilakukan perguruan tinggi agar tidak semata-mata mengacu pada nilai rapor semata, tetapi juga akreditasi sekolah, serta prestasi lain di luar prestasi akademik.

“Saya kira semua sistem atau peraturan, pasti ada celah. Perlu kesadaran kita bersama untuk berani melakukan kritik terhadap diri sendiri dan berfikir untuk bersama-sama maju demi bangsa dan negara. Agar bisa meningkatkan kualitas pendidikan, angka partisipasi sekolah serta partisipasi kuliahnya juga bisa lebih bagus," imbau politisi dapil Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta itu.

Sebelumnya Rektor Universitas Jambi, Johny Najwan menyampaikan, ada tren sekolah di daerah-daerah tertentu memperbaiki rapor agar siswanya bisa masuk ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Akibatnya, ada mahasiswa yang dikeluarkan (drop out) karena tidak mampu mengikuti perkuliahan.***

wwwwww