Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Pernah Keluar Rumah Tapi Dinyatakan Positif Corona, Ibu Hamil Menangis Histeris
Kesehatan
17 jam yang lalu
Tak Pernah Keluar Rumah Tapi Dinyatakan Positif Corona, Ibu Hamil Menangis Histeris
2
Penderita Corona, Penjaga Makam, Security dan Kaum Duafa Dapat Daging Qurban
MPR RI
17 jam yang lalu
Penderita Corona, Penjaga Makam, Security dan Kaum Duafa Dapat Daging Qurban
3
Tahan Impor, Partai Gelora Indonesia: Perlu Ada Kemandirian
Pemerintahan
17 jam yang lalu
Tahan Impor, Partai Gelora Indonesia: Perlu Ada Kemandirian
4
ISYF Kampanyekan Gerakan Milenial Bermasker Cegah Covid-19
Umum
17 jam yang lalu
ISYF Kampanyekan Gerakan Milenial Bermasker Cegah Covid-19
5
Manajemen dan Nasabah Bumiputera Diharapkan Segera Bertemu
DPR RI
17 jam yang lalu
Manajemen dan Nasabah Bumiputera Diharapkan Segera Bertemu
6
Akibat Ledakan Dahsyat di Beirut, 300 Ribu Orang Kehilangan Rumah
Internasional
18 jam yang lalu
Akibat Ledakan Dahsyat di Beirut, 300 Ribu Orang Kehilangan Rumah
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Bahayanya Pemisahan Stafsus Presiden dan Wapres Menurut Pakar Hukum

Bahayanya Pemisahan Stafsus Presiden dan Wapres Menurut Pakar Hukum
Gambar: Tangkapan layar 'Dua Sisi' TV One.
Sabtu, 30 November 2019 10:48 WIB
JAKARTA - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan analisanya terkait keberadaan staf khusus (Stafsus) Wakil Presiden dan staf khusus Presiden yang baru ditetapkan belum lama ini.

Refly, tak menyoal usia milenial atau uzurnya personil stafsus. Yang menjadi soal adalah adanya potensi gangguan terhadap sistem presidensil. Ideal Presiden dan Wapres yang mestinya satu jiwa, satu suara dalam sistem presidensil, bisa terganggu ketika terjadi telat koordinasi lintas stafsus.

"Coba bayangkan misalnya, terhadap satu masalah tiba-tiba muncul staf khusus wakil presiden ngomong A, staf khusus wakil presiden ngomong B, karena belum ada koordinasi," jelasnya.

"Padahal, hal seperti itu tidak boleh terjadi," imbuh Refly.

Ia lantas bercerita pernah diundang di kesekretariatan wakil presiden dan mengajukan pertanyaan.

"Padahal saya pernah diundang kesekretariatan wakil presiden. Apakah itu butuh kesekretariatan sendiri? (saya katakan, red) 'Enggak'. Karena harusnya itu menyatu dengan presidennya," katanya.

"Sehingga gerak langkah presiden dan wakil presidennya itu sekali seirama termasuk stafnya," pungkas Refly.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Pemerintahan, GoNews Group

wwwwww