Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Bertambah 1.893, Total Kasus Covid-19 di Tanah Air 125.396 Orang, 5.723 Meninggal
Kesehatan
22 jam yang lalu
Bertambah 1.893, Total Kasus Covid-19 di Tanah Air 125.396 Orang, 5.723 Meninggal
2
Kapal Patroli Polairud Tenggelam, 3 Polisi Hilang
Peristiwa
18 jam yang lalu
Kapal Patroli Polairud Tenggelam, 3 Polisi Hilang
3
Pandemi dan Persaingan Kerja Lulusan Baru
DPR RI
5 jam yang lalu
Pandemi dan Persaingan Kerja Lulusan Baru
4
Jika Banyak 'Kotak Kosong' di Pilkada 2020
DPD RI
5 jam yang lalu
Jika Banyak Kotak Kosong di Pilkada 2020
5
Ini Identitas 3 Polisi yang Hilang Akibat Karamnya Kapal Patroli Polairud
Peristiwa
17 jam yang lalu
Ini Identitas 3 Polisi yang Hilang Akibat Karamnya Kapal Patroli Polairud
6
Imbas Pandemi Covid 19, Persaingan Kerja Lulusan Baru Makin Ketat
DPR RI
4 jam yang lalu
Imbas Pandemi Covid 19, Persaingan Kerja Lulusan Baru Makin Ketat
Home  /  Berita  /  GoNews Group

MUI Jatim Imbau Umat Muslim Tak Ucapkan Natal: Kecuali Wapres

MUI Jatim Imbau Umat Muslim Tak Ucapkan Natal: Kecuali Wapres
Senin, 23 Desember 2019 22:12 WIB
SURABAYA - Sekali lagi MUI Jatim mengeluarkan imbauan. Setelah imbauan pejabat tak gunakan salam pembuka semua agama, kali ini MUI Jati mengimbau umat muslim untuk tidak mengucapkan selamat hari Raya Natal kepada masyarakat Nasrani. Namun, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mendapat pengecualian.

Sekretaris MUI Jatim Moch Yunus menyebut ada pertimbangan yang membuat Ma'ruf Amin mendapat pengecualian. Karena Ma'ruf Amin yang merupakan seorang pemimpin. "Nah kalau urusan itu, mungkin pak Wapres punya pertimbangan sebagai pemimpin negara," ujar Yunus kepada wartawan pada Jumat (20/12/2019) di Surabaya.

Yunus mengatakan mengucapkan selamat natal bukanlah tindakan intoleransi. Hal ini lebih berkaitan dengan akidah Islam yang harus tetap dijaga.

Yunus juga menyarankan pengucapan Selamat Hari Natal bisa juga diwakilkan oleh pemimpin atau unsur lain seperti sekretaris atau wakil yang memiliki agama sama.

"Toleransi itu adalah saling menghormati dan saling setuju terhadap perbedaan beragama, jika toleransi itu dipahami dengan baik, maka tidak boleh ada orang muslim kemudian dipaksa menggunakan atribut keagamaan non muslim. Contohnya ada anak berjilbab dan harus memakai topi Sinterklas. Apakah itu termasuk toleran? tentu itu keliru," papar Yunus.

"Toleransi itu setuju dan disepakati dalam perbedaan masing-masing agama. Sehingga ketika orang tidak mengucapkan selamat hari Natal, tidak menggunakan atribut perayaan mereka, itu bukan dimaksud intoleran," imbuh Yunus.

Sementara untuk pemberian ucapan, menurut Yunus, sama saja membenarkan ajaran agama lain. "Jadi mengenai ucapan Natal, ini masuk wilayah akidah ketika kita mengucapkan selamat kepada peringatan itu. Yang di dalam akidah Islam itu sangat jelas bahwa Allah itu Maha Esa, Maha satu dan tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan, bukan bapak dan bukan anak," jelas Yunus.

Untuk itu, peringatan Natal yang merupakan peringatan kelahiran Anak Tuhan, lanjut Yunus, merupakan hal di luar akidah. Yunus menyebut mengucapkan selamat sama saja mengakui jika Tuhan tidak lah tunggal atau Esa.

"Nah peringatan Natal itu kan peringatan hari lahirnya anaknya Tuhan. Nah ini kan masuk akidah dan itu tidak boleh. Sehingga kemudian kita mengucapkan hari natal itu berpotensi merusak akidah. Sehingga kemudian kita tidak boleh memaksakan atau meminta agar orang Muslim mengucapkan hari natal mengikuti perayaan ritualitas natal," lanjut Yunus.

Yunus meminta hal ini perlu dipahami oleh seluruh umat muslim. Menurut Yunus, jika masyarakat telah paham akan esensi toleransi, sweeping yang dilakukan sejumlah oknum tak akan terjadi.

"Saya kira kalau misalnya memaknai toleransi itu secara benar, maka tidak mungkin ada sweeping. Kalau dipahami dengan baik, tidak akan muncul kelompok-kelompok tertentu yang melakukan sweeping," ungkapnya.

"Peringatan Hari Natal itu adalah masuk ritualitas agama yang tidak masuk wilayah yang ditoleransi. Kan umat Islam punya namanya lakum dinukum waliyadin. Kalau persoalan sosial dan yang lain itu boleh ditoleransi, kalau masalah akidah tidak boleh dipaksakan. Nah kalau itu dipahami dengan baik, itu tidak akan kita jumpai anak-anak yang agama berbeda dengan peringatan hari besar itu menggunakan atribut mereka, maka tidak mungkin ada sweeping," pungkas Yunus.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Detik.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww