Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Terapkan New Normal, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa
Peristiwa
16 jam yang lalu
Terapkan New Normal, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa
2
Ketua DPD RI Ajak Elemen Bangsa Gotong Royong Tekan Covid-19
Politik
16 jam yang lalu
Ketua DPD RI Ajak Elemen Bangsa Gotong Royong Tekan Covid-19
3
Petani Mengamuk, Lalu Bacok Istri hingga Tewas Mengenaskan
Umum
16 jam yang lalu
Petani Mengamuk, Lalu Bacok Istri hingga Tewas Mengenaskan
4
Syarief Hasan : Tap MPRS No. XXV/1966 Beri Kepastian Hukum dalam RUU HIP
Politik
16 jam yang lalu
Syarief Hasan : Tap MPRS No. XXV/1966 Beri Kepastian Hukum dalam RUU HIP
5
Dugaan Gratifikasi, KPK Tangkap Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya di Jakarta Selatan
Hukum
17 jam yang lalu
Dugaan Gratifikasi, KPK Tangkap Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya di Jakarta Selatan
6
DMI: Kapasitas Masjid Hanya Boleh 40 Persen Saat New Normal
Kesehatan
16 jam yang lalu
DMI: Kapasitas Masjid Hanya Boleh 40 Persen Saat New Normal
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Iran Bereaksi, Trump Bidik 52 Situs Iran

Iran Bereaksi, Trump Bidik 52 Situs Iran
Gambar: Reuters
Minggu, 05 Januari 2020 14:27 WIB
JAKARTA - Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu mengancam akan menghantam 52 situs Iran "sangat keras" jika Iran menyerang aset Amerika setelah serangan pesawat tak berawak AS menewaskan komandan militer Iran Qassem Soleimani dan seorang pemimpin milisi Irak.

Trump mengeluarkan ancaman terhadap Iran di Twitter. Iran, Trump menulis, "berbicara dengan sangat berani tentang menargetkan aset AS tertentu" sebagai pembalasan atas kematian Soleimani.

Trump mengatakan Amerika Serikat telah "menargetkan 52 situs Iran" dan beberapa di antaranya "pada tingkat yang sangat tinggi & penting bagi Iran & budaya Iran, dan target-target itu, dan Iran sendiri, AKAN MENYANGKAL SANGAT CEPAT DAN SANGAT KERAS."

"AS tidak menginginkan ancaman lagi!" Trump mengatakan, bahwa 52 target mewakili 52 orang Amerika yang disandera di Iran selama 444 hari setelah ditangkap di Kedutaan Besar AS di Teheran pada bulan November 1979.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Sumber:Reuters
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Pemerintahan, GoNews Group

wwwwww