Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
Pemerintahan
16 jam yang lalu
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
2
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
Kesehatan
16 jam yang lalu
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
3
Kontroversi Kalung Anti Virus Corona, Antara Obat dan Ajian Jimat
Pemerintahan
16 jam yang lalu
Kontroversi Kalung Anti Virus Corona, Antara Obat dan Ajian Jimat
4
Gus Jazil Minta Pemerintah Selamatkan Lembaga Pendidikan Swasta
Pendidikan
17 jam yang lalu
Gus Jazil Minta Pemerintah Selamatkan Lembaga Pendidikan Swasta
5
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Pemerintahan
5 jam yang lalu
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Home  /  Berita  /  DPR RI

Jika BI Nekat Cetak Uang Jumlah Besar, Fraksi PKS Sebut Indonesia Bisa Seperti Zimbabwe

Jika BI Nekat Cetak Uang Jumlah Besar, Fraksi PKS Sebut Indonesia Bisa Seperti Zimbabwe
Kamis, 30 April 2020 19:47 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan Ecky Awal Mucharam menegaskan bahwa mendesak Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang dalam jumlah besar berbahaya bagi perekonomian nasional.

"Ini akan berbahaya karena bisa menjadi inflasi yang sangat-sangat tinggi atau hyper inflasi. Kalau sudah demikian maka akan memukul daya beli rakyat. Jadi pencetakan uang yang berlebihan akan menjadi beban bagi rakyat keseluruhan. Rakyat banyak yang harus membayar, yang menikmati hanya segilintir orang atau kelompok. Ini berbahaya”, tegasnya.

Anggota Komisi XI ini menyatakan bahwa usulan agar Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun bukan usulan resmi dari DPR.

"Itu hanya usulan pribadi. Kami tidak sependapat dengan usulan tersebut. Dan dalam pembahasan dengan Komisi XI, Bank Indonesia juga telah menyampaikan tidak mengarah kesana," tambahnya.

Sampai saat ini pelaksanaan kebijakan QE sebagaimana dijelaskan BI belum dalam pencetakan uang baru, tetapi pelonggaran likuditas melalui beberapa instrument moneter yang dimiliki, yaitu pembelian SBN dipasar sekunder yang dilepas oleh investor asing, pelonggaran rasio GWM, penyediaan likuiditas perbankan melalui mekanisme repo, yang secara total BI telah menjalankan kebijakan pelonggaran likuditas mencapai Rp 420 triliun.

Ecky menekankan bahwa mencetak uang oleh Bank Indonesia hingga Rp 600 triliun justru akan berdampak negatif pada perekonomian, dan berpotensi menjadi penyebab krisis ekonomi baru.

"Mencetak uang tanpa underlying akan menyebabkan lonjakan inflasi, seperti halnya yang terjadi pada tahun 1998 dan tahun 1965. Dampak lanjutannya terlihat pada penurunan daya beli rakyat karena harga-harga semakin mahal. Hal ini disebabkan karena pencetakan uang tidak menciptakan kegiatan produktif justru untuk mendorong konsumsi. Kondisi tersebut semakin buruk karena pendapatan rakyat terus tergerus karena pemburukan ekonomi. Zimbabwe merupakan salah satu negara dengan inflasi terburuk karena lonjakan pencetakan uang. Kita tak ingin seperti Zimbabwe beberapa tahun lalu," tandasnya.

Politisi PKS ini juga memperingatkan bahwa kebijakan ini juga akan memperburuk nilai tukar.

Saat jumlah uang beredar naik, maka inflasi naik dan nilai tukar terdepresiasi. Tanpa tambahan pencetakan uang pun, rupiah sudah sempoyongan menghadapi ekonomi global. Saat ini, Rupiah sudah semakin kokoh karena interevensi Bank Indonesia," tambahnya.

Ecky juga menekankan bahwa pencetakan uang di negara-negara maju seperti AS tidak berdampak signifikan bagi inflasi AS, karena dollar di pegang oleh seluruh dunia.

"Jadi kondisinya sangat berbeda dengan kita negera berkembang. Negara mana yang akan menyerap Rupiah, jika dicetak banyak. Kebijakan ini juga akan menimbulkan persepsi negatif di pasar uang. Di tengah ancaman krisis ekonomi global, mencetak uang justru malah menimbulkan persepsi negatif, terutama terkait dengan tingginya ancaman inflasi. Persepsi negatif ini dampak menimbulkan capital flight dalam jumlah besar, yang pada akhirnya akan memperburuk CAD dan memperlemah nilai tukar rupiah”, pungkasnya.***


wwwwww