Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
17 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
17 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
10 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
4
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
19 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
5
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
19 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
6
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
19 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Home  /  Berita  /  PON

Prediksi Lembaga Riset AS, Umat Islam Mayoritas pada 2075, Ini Penyebabnya

Prediksi Lembaga Riset AS, Umat Islam Mayoritas pada 2075, Ini Penyebabnya
Jamaah haji tawaf (mengelilingi) Kakbah. (tribunnews)
Sabtu, 12 September 2020 07:17 WIB

WASHINGTON - Pew Research Center (PRC) memprediksi umat Islam akan menjadi penduduk mayoritas di dunia pada tahun 2075.

Dikutip dari Republika.co.id, prediksi lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) ini dilansir the Guardian, beberapa waktu lalu. Prediksi ini berdasarkan pada terus bertambahnya kelahiran di keluarga Muslim.

Hasil riset PRC menyebutkan, selama dua dekade mendatang jumlah bayi yang lahir dari keluarga Muslim akan menyalip jumlah bayi yang lahir dari keluarga Kristen. Jumlah orang yang tak beragama juga akan berkurang. Hal ini, menurut analisis PRC, akibat berkurangnya kelahiran di kalangan mereka.

Poin penting dari analisis ini adalah adanya pergeseran demografi penganut agama. ''Dalam hal ini, populasi di dunia bagian selatan terus meningkat, sedangkan populasi Kristen semakin menua dan mati,'' tulis PRC dalam laporannya.

Perubahan tingkat demografi tersebut, menurut PRC, disebabkan jumlah usia muda di kalangan Muslim jauh lebih banyak dan tingkat kesuburan populasi Muslim juga relatif tinggi. Pada 2030-2035 diprediksi akan lahir bayi Muslim lebih banyak, yakni 225 juta jiwa dibandingkan bayi Kristen yang hanya 224 juta jiwa.

Sedangkan, pada 2055 dan 2060, selisih jumlah kelahiran Muslim dan Kristen akan melebar menjadi enam juta, yakni kelahiran di kalangan Muslim mencapa 232 juta, sedangkan kelahiran di keluarga Kristen berjumlah 226 juta.

Sementara, tingkat kematian populasi Kristen di Eropa jauh melampaui tingkat kelahiran. Menurut PRC, pola itu akan terus berlanjut di sebagian besar Eropa dalam beberapa dekade ke depan.

Meski jumlah usia muda dan subur umat Kristen di sub-Sahara Afrika relatif banyak, umat Kristen telah menyumbang 37 persen angka kematian di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

''Ini berbeda dengan ledakan kelahiran Muslim di dunia,'' kata PRC.

Prediksi lain yang diungkap PRC, tingkat kelahiran pada populasi yang tidak beragama juga rendah. Mereka hanya melahirkan 10 persen dari total bayi di dunia. Padahal, total populasi mereka sebanyak 16 persen.

Rendahnya tingkat kelahiran tersebut menyebabkan jumlah Nones (sebutan untuk orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai atheis atau agnostik, serta mereka yang tidak memiliki agama tertentu, red)  diprediksi menurun.

Pada kurun waktu 2055-2060, hanya sembilan persen bayi yang lahir dari ibu yang tidak  beragama. Sedangkan, 70 persen lebih berasal dari kalangan Islam dan Kristen. Islam 36 persen dan Kristen 35 persen.

Orang-orang yang tidak beragama, menurut PRC, terkonsentrasi di negara-negara dengan populasi usia tua dan tingkat kesuburan rendah, seperti China, Jepang, Eropa, dan Amerika Utara. Sebaliknya, agama dengan banyak pengikut terkonsentrasi di negara-negara berkembang karena kawasan ini memiliki tingkat kelahiran tinggi.*** 

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:PON
wwwwww