Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ciptaker Untungkan Keuangan Syariah Menurut LDK PP Muhammadiyah
Ekonomi
5 jam yang lalu
Ciptaker Untungkan Keuangan Syariah Menurut LDK PP Muhammadiyah
2
Jokowi: Semangat Sumpah Pemuda Harus Tetap Ada
GoNews Group
24 jam yang lalu
Jokowi: Semangat Sumpah Pemuda Harus Tetap Ada
3
MPR Minta Pemerintah Prioritaskan Pendidikan Nasional
Pendidikan
21 jam yang lalu
MPR Minta Pemerintah Prioritaskan Pendidikan Nasional
4
Alasan MPR Puji Langkah Gubernur Yogyakarta Hadapi Covid-19
Nasional
20 jam yang lalu
Alasan MPR Puji Langkah Gubernur Yogyakarta Hadapi Covid-19
5
BAZNAS Resmikan Balai Ternak 'Mendo Manbumi'
Ekonomi
19 jam yang lalu
BAZNAS Resmikan Balai Ternak Mendo Manbumi
6
Pemuda Diminta Bersiap jadi Pemimpin
Nasional
20 jam yang lalu
Pemuda Diminta Bersiap jadi Pemimpin
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Liput Demo di Thamrin, Jurnalis Dianiaya dan Alat Kerja Dirampas Polisi

Liput Demo di Thamrin, Jurnalis Dianiaya dan Alat Kerja Dirampas Polisi
Ilustrasi Polisi saat menangkap peserta demo. (Istimewa)
Jum'at, 09 Oktober 2020 01:29 WIB
JAKARTA - Pemimpin redaksi Media Online Suara, Suwarjono, mengecam aksi penganiayaan dan intimidasi terhadap jurnalis yang sedang meliput aksi demo Mahasiswa beserta buruh hari ini, Kamis (8/10/2020) di Jakarta.

Sebab, kata Dia, jurnalis dalam melakukan tugas-tugas jurnalistik selalu dilindungi oleh perundang-undangan. "Saya juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas hal ini," demikian ujar Suwarjono kepada GoNews.co melalui siaran pers menanggapi insiden kekerasan yang dialami beberapa jurnalis termasuk anak buahnya.mengecam aksi penganiayaan terhadap jurnalis kami, maupun jurnalis media-media lain yang mengalami aksi serupa.

"Jurnalis kami, Peter Rotti, mengalami kekerasan dari aparat kepolisian saat meliput aksi unjuk rasa penolakan Omnimbus Law Undang-undang Cipta Kerja di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020)," timpalnya.

Peristiwa itu kata Dia, terjadi sekitar pukul 18.00 WIB, saat Peter merekam video aksi sejumlah aparat kepolisian mengeroyok seorang peserta aksi di sekitar halte Transjakarta Bank Indonesia.

Ketika itu Peter berdua dengan rekannya, yang juga videografer, yakni Adit Rianto S, melakukan live report via akun YouTube peristiwa aksi unjuk rasa penolakan Omnimbus Law.

Melihat Peter merekam aksi para polisi menganiaya peserta aksi dari kalangan mahasiswa, tiba-tiba seorang aparat berpakaian sipil serba hitam menghampirinya.

Kemudian disusul enam orang Polisi yang belakangan diketahui anggota Brimob. Para polisi itu meminta kamera Peter, namun ia menolak sambil menjelaskan bahwa dirinya jurnalis yang sedang meliput.

Namun, para polisi memaksa dan merampas kamera Peter. Seorang dari polisi itu sempat meminta memori kamera. Peter menolak dan menawarkan akan menghapus video aksi kekerasan aparat polisi terhadap seorang peserta aksi.

Para polisi bersikukuh dan merampas kamera jurnalis video Suara tersebut. Peter pun diseret sambil dipukul dan ditendang oleh segerombolan polisi tersebut.

"Saya sudah jelaskan kalau saya wartawan, tetapi mereka (polisi) tetap merampas dan menyeret saya. Tadi saya sempat diseret dan digebukin, tangan dan pelipis saya memar," kata Peter melalui sambungan telepon.

Setelah merampas kamera, memori yang berisi rekaman video liputan aksi unjuk rasa mahasiswa dan pelajar di sekitar patung kuda, kawasan Monas, Jakarta itu diambil polisi. Namun kameranya dikembalikan kepada Peter.

"Kamera saya akhirnya kembalikan, tetapi memorinya diambil sama mereka," ujarnya.

Kekinian Peter dalam kondisi memar di bagian muka dan tangannya akibat penganiayaan aparat kepolisian.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Umum, Peristiwa, Pemerintahan, DKI Jakarta
wwwwww