Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
Hukum
22 jam yang lalu
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
2
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
Umum
22 jam yang lalu
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
3
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
Peristiwa
20 jam yang lalu
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
4
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
Peristiwa
22 jam yang lalu
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
5
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
Hukum
22 jam yang lalu
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
6
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Politik
22 jam yang lalu
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Home  /  Berita  /  MPR RI

Basarah: Tanpa Wartawan, Isi dan Ruh MPR Tak Bisa Diketahui 270 Juta Rakyat Indonesia

Basarah: Tanpa Wartawan, Isi dan Ruh MPR Tak Bisa Diketahui 270 Juta Rakyat Indonesia
Ahmad Basarah bersama pimpinan dan perwakilan fraksi serta Humas Pemberitaan MPR dalam sesi foto bersama. (Foto: Istimewa)
Sabtu, 27 Maret 2021 16:50 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Tanpa media dan kehadiran wartawan, seluruh isi dan ruh MPR sebagai rumah kebangsaan, tidak mungkin diketahui oleh 270 juta jiwa rakyat Indonesia.

Tanpa hadirnya para jurnalis masyarakat juga tidak akan mengerti dengan apa yang sudah dikerjakan lembaga MPR RI selama ini. Demikian ungakapan Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, saat membuka acara Press Ghatering Pemimpin MPR RI bersama Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Hotel Mambruk, Anyer, Banten, Sabtu (27/3/2021).

"Tanpa hubungan baik dengan insan pers, seluruh isi dan roh MPR sebagai rumah kebangsaan, tidak mungkin diketahui 270 juta jiwa rakyat Indonesia. Jadi saya mewakili pimpinan MPR, sangat mengapresiasi Ibu Siti dan jajaran Humas MPR yang berani menggelar acara ini ditengah pandemi," ujarnya.

Ahmad Basarah juga mengakui, di tengah era digitalisasi atau 4.0 suka tidak suka telah merubah dan menguasai pandangan masyarakat. Terutama, soal bagimana masyarakat cenderung tidak lagi mempercayai situ-situ pemerintah baik Kementerian ataupun lembaga negara sebagai sumber informasi.

"Di tengah digital era 4.0 yang menguasai hidup hajat orang banyak, saat ini masyarakat tidak mempercayai situs-situs pemerintah, kalah kredibilitasnya hari ini dengan media sosial (Medsos)," katanya.

Untuk itu, dirinya mengingatkan, dalam kondisi seperti itulah menjadi penting agar kementerian/lembaga negara, termasuk MPR RI dapat terus menggandeng para insan pers untuk memberikan kepercayaan terhadap masyarakat," tukasnya.

Selain itu, Basarah juga mengajak agar para insan pers berkomitmen untuk menagkal semua pemberitaan hoax. Dengan demikian kata Dia, maka wibawa pers akan tetap terjaga dan tak akan tersaingi oleh media sosial.

Menurut dia, cara paling efektif menjaga wibawa pers adalah dengan tidak ikut menyebar berita bohong atau hoaks dan ikut aktif meluruskan segala berita bohong yang disebarkan melalui medsos agar ruang publik bersih dari residu demokrasi liberal ini.

"Kami tidak berharap media sosial menggantikan posisi media mainstream dalam menyebarkan berita. Saya prihatin membaca laporan Kemenkominfo yang pernah merilis ada 800 ribu situs penyebar hoaks di Indonesia," pungkasnya.***

wwwwww