Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
10 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
10 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
11 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
12 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Ekonomi
7 jam yang lalu
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Home  /  Berita  /  Olympic

Hari Lahir Pancasila Hingga Menjamurnya Wartawan 'Bodrek'

Hari Lahir Pancasila Hingga Menjamurnya Wartawan Bodrek
Ketua AJI Sasmito.(Foto/rri.co.id/Charlie Reinhard)
Selasa, 01 Juni 2021 19:48 WIB
JAKARTA - Wartawan bodrek (gadungan) saat ini masih terus muncul dan dinilai dapat mengikis nilai-nilai Pancasila.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Sasmito menyebut wartawan bodrek yang menerima amplop tidak mengerti definisi independensi.

"Jadi butuh strategi pendekatan yang lain supaya nilai independensi bisa ditularkan ke teman jurnalis yang lain," katanya saat dialog bersama RRI dengan tema 'Orang Media Bicara Aktualisasi Nilai Pancasila' di Newsroom RRI, Jakarta, Selasa (1/6/2021).

"AJI memang sejak berdiri itu kan selalu mengkampanyekan anti amplop," sambungnya.

Untuk itu, katanya, AJI semakin mengubah strategi untuk merekrut anggotanya. "Kita saklek gitu ya, ada orang yang menerima amplop dan sebagainya yang bertentangan dengan nilai AJI, maka akan sulit masuk anggota AJI. Semakin kesini kita juga mencoba merangkul teman-teman supaya nilai AJI kita sebarkan ke semua teman-teman jurnalis," katanya.

Sekretaris PWI Jaya, Kesit Budi Handoyo.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PWI Jaya, Kesit Budi Handoyo menyebut jika saat ini setiap orang dengan mudah dapat membuat sebuah media, terutama media online. "Sekarang punya duit 2 juta, 3 juta aja sudah bisa membuat media. Tapi, ya media seperti apa dulu?" tegasnya.

Jika ditanya mengenai jumlah wartawan saat ini, dirinya mengaku tidak mengetahui jumlah persisnya. Hal itu dikarenakan menjamurnya orang yang mengaku sebagai wartawan.

"Tapi kami di PWI selalu teriak-teriak, ya jadi kalau misalnya ada wartawan bodrek (wartawan amplop) kalau misalnya ada laporan-laporan ke kami, itu pasti kami tindak lanjuti," tegasnya.

"Jadi orang punya kartu pers saja sudah bisa langsung, padahal belum tentu bisa nulis. Ketika ketemu wartawan seperti itu, ditanya aja tergabung di organisasi apa, kalau tergabung di organisasi yang resmi, silakan kalau ada kelakuan yang tidak betul menyalahi kode etik, ya laporkan," tutupnya.

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:RRi.co.id
Kategori:Badminton, Metropolitan, Voli, Olympic, DKI Jakarta
wwwwww