Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
13 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
17 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
14 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
12 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
19 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Olympic

Kisah Mualaf Irlandia, Terpesona Keindahan Islam dan Jilbab

Kisah Mualaf Irlandia, Terpesona Keindahan Islam dan Jilbab
Lorraine O'Connor. (Foto: Istimewa)
Rabu, 09 Juni 2021 07:03 WIB
DUBLIN - Seorang wanita asal Dublin, Irlandia, memutuskan memeluk Islam pada usia 30 tahun. Dia adalah Lorraine O'Connor, yang jatuh cinta dengan seorang pria Muslim dari Libya ketika dia berusia 20 tahun dan memutuskan menikah dengannya meski pada awalnya menimbulkan ketegangan dengan keluarganya.

"Pada awal 80-an, banyak pria Timur Tengah datang untuk belajar dan saya bertemu dengannya saat itu. Saya sendiri berasal dari keluarga besar dan sama sekali tidak ada orang asing dalam keluarga. Butuh waktu lama bagi keluarga saya untuk menerimanya, tetapi pada akhirnya mereka menerimanya," kata dia dilansir dari laman RSVP Live, Selasa (8/6).

Sebelum mereka menikah, pria itu mengatakan kepadanya, anak-anak mereka harus beragama Islam. Saat itu, O'Connor beragama Katolik dan sangat kuat dalam agamanya. Pada akhirnya, cinta mengalahkan segalanya dan mereka pun menikah. Ia mengakui, Islam baginya kala itu terkesan cukup negatif sebelum belajar lebih banyak tentangnya.

"Ada banyak hal di media, dunia Arab digambarkan sebagai tempat di mana ada pembunuhan, perang, dan terorisme, hal-hal mengerikan terjadi. Anda akan mengasosiasikan Islam dengan tindakan orang-orang itu. Saya mendapat kesan bahwa laki-laki benar-benar mendominasi dan perempuan tidak memiliki suara," ujarnya menjelaskan.

Namun, pikiran O'Connor tentang Islam tidak berhenti di situ. Dia ingin tahu lebih banyak soal Islam karena kesan Islam yang bermunculan tidak masuk akal menurutnya. "Pria yang saya cintai dan latar belakang keluarganya dan hubungan yang dia miliki dengan keluarganya, mereka tampak seperti orang-orang yang menyenangkan," ujarnya.

O'Connor memutuskan untuk pergi ke Masjid di South Circular Road dan bergabung dengan kelompok belajar Alquran. Di sana, dia bertemu banyak wanita luar biasa, termasuk beberapa Muslim Irlandia. "Ada banyak gadis Irlandia di sana, dan gegap gempitanya," kata dia mengenang.

"Anak-anak dan tawa. Itu lingkungan yang indah. Saya pikir saya tidak akan diterima dan mereka tidak ingin berhubungan dengan saya. Tetapi, mereka sangat baik. Suatu kali saya sakit dan mereka memasak untuk saya," ucapnya.

O'Connor tidak hanya terpesona kebaikan para wanita di masjid, tetapi juga terkesan dengan apa yang dia pelajari tentang Islam. "Apa yang saya pikirkan adalah kebalikan dari apa yang saya ketahui. Saya tidak tahu mereka percaya pada Maria, mereka percaya Yesus lahir dari seorang perawan, semua hal ini saya percaya juga."

Akhirnya pada 2005, O'Connor memutuskan masuk Islam. "Saya ingat suatu hari duduk dan ada Alquran di rumah dan saya membukanya. Saya memiliki hubungan yang indah dengan Yesus dan saya membaca sebuah bagian dalam Alquran dan saya mengerti saat itu, dan saya sadar saya tidak berada dalam agama yang benar."

Dia mulai mengenakan jilbab dan terkejut dengan tanggapan negatif yang dia terima dan merasa asing di negaranya sendiri. "Saya menjadi imigran di negara saya sendiri. Identitas saya diambil dari saya, padahal yang saya lakukan hanyalah mengubah keyakinan saya, saya masih orang yang sama," katanya.

Orang-orang akan meneriaki saya di jalan, "Kembalilah ke tempat asalmu!" Meski awalnya khawatir tentang jilbab, dia mulai sepenuhnya menghargainya. "Saya selalu mengatakan, 'Kamu tidak akan pernah menangkap saya dengan jilbab itu'," ujarnya.

"Orang-orang melihat jilbab sebagai bentuk penindasan, tetapi itu adalah bentuk pembebasan. Ini tentang pilihan pribadi. Saya akan memakainya jika saya mau dan tidak ada yang akan menghentikan saya. Mengenakan jilbab adalah tindakan yang indah antara seorang wanita dan penciptanya," ungkapnya.

Kemudian, O'Connor memutuskan melakukan sesuatu untuk mematahkan stereotip seputar Islam dan wanita Muslim. Dia ingin membantu wanita Muslim menemukan suara mereka. Ia pun mendirikan Muslim Sisters of Eire, yang melakukan banyak pekerjaan amal serta memberikan dukungan kepada wanita Muslim dan mendorong integrasi.

"Kami dapat berkontribusi sangat banyak kepada masyarakat Irlandia yang lebih luas. Kita seharusnya tidak tinggal di dalam komunitas atau kelompok etnis kita sendiri. Ini mematahkan stereotip dan kesalahpahaman bahwa perempuan tidak diizinkan keluar dan tidak diizinkan bekerja. Kami memiliki wanita Muslim yang luar biasa yang sangat berpendidikan," katanya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Republika.co.id
Kategori:DKI Jakarta, Olympic, PON
wwwwww