Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
10 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
10 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
11 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
12 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Ekonomi
7 jam yang lalu
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Home  /  Berita  /  Basket

Buru Wartawan Jerman dari Rumah ke Rumah, Taliban Tembak Mati Keluarga Jurnalis DW

Buru Wartawan Jerman dari Rumah ke Rumah, Taliban Tembak Mati Keluarga Jurnalis DW
Ilustrasi Taliban. (Foto: Istimewa)
Sabtu, 21 Agustus 2021 04:06 WIB

JAKARTA - Kelompok Taliban mengincar wartawan asal jerman Deutsche Welle. Namun hingga kini mereka belum menemukan jurnalis tersebut.

Diberitakan Taliban, yang memburu wartawan Deutsche Welle, menembak mati salah seorang anggota keluarga wartawan tersebut di Afghanistan dan membuat seorang lainnya terluka parah, kata media Jerman itu.

Deutsche Welle (DW) mengatakan Taliban melakukan pencarian dari rumah ke rumah untuk menemukan wartawan yang mereka incar.

Wartawan yang dimaksud, kata DW tanpa menyebut nama, saat ini bekerja di Jerman. Kerabat yang lain berhasil pergi menyelamatkan diri dan saat ini sedang bersembunyi, kata DW.

"Pembunuhan oleh Taliban terhadap kerabat dekat salah satu editor kami... adalah kejadian tragis yang tak terbayangkan, dan merupakan bukti betapa gawat bahaya yang dihadapi seluruh pegawai kami beserta keluarga mereka di Afghanistan," kata Direktur Umum DW Peter Limbourg pada Kamis (19/8) larut malam.

Limbourg mendesak pemerintah Jerman di Berlin untuk segera memberi bantuan. Deutsche Welle menambahkan bahwa tiga wartawannya yang lain mengalami penggerebekan di rumah mereka.

Taliban sebetulnya sudah menyatakan janji akan mengizinkan media menjalankan kegiatan secara bebas. Janji itu dinyatakan kelompok bersenjata tersebut saat menggelar konferensi pers pada Selasa (17/8) setelah merebut kendali ibu kota Kabul pada Minggu (15/8).

Media tidak bisa bebas bergerak ketika Taliban berkuasa pada 1996 hingga 2001. Sejak Taliban menguasai Kabul pada Minggu, beberapa wartawan Afghanistan melaporkan bahwa mereka dipukuli dan rumah mereka diserang.

Salah satu juru bicara Taliban belum menanggapi permintaan untuk berkomentar, sementara yang lainnya belum dapat dihubungi.

Beberapa wartawan Afghanistan mengatakan situasi masih belum jelas. "Mereka (Taliban) sebelumnya memberikan jaminan kepada kami bahwa kami aman," kata Khushal Asefi, wakil kepala eksekutif stasiun penyiaran swasta Afghanistan, Ariana Radia & Television.

"Untuk saat ini, mereka mengatakan bahwa kami tidak bermasalah, bahkan perempuan wartawan boleh menjalankan pekerjaan di TV, mereka boleh tampil," katanya dalam wawancara dengan DW.

Namun, masih ada laporan bahwa Taliban tidak membolehkan perempuan wartawan tampil di TV, kata Asefi. Ia menambahkan bahwa Taliban belum menjelaskan aturan-aturan apa yang akan mereka keluarkan bagi perempuan.

"Taliban baru saja merebut Kabul. Tapi nantinya, ketika pemerintahan atau sistem terbentuk, kita akan melihat larangan-larangan apa yang akan diterapkan atau tidak diterapkan oleh Taliban," kata Asefi.

Deutsche Welle mengatakan Taliban menggerebek sedikitnya tiga kediaman wartawannya. "Kelihatan jelas bahwa Taliban sudah melancarkan penggeledahan secara terorganisasi untuk menemukan keberadaan para wartawan, baik di Kabul maupun provinsi-provinsi lainnya. Kita kehabisan waktu!" kata Limbourg soal banyaknya warga Afghanistan yang merasa sangat terdesak untuk segera meninggalkan negara itu.

Kanselir Jerman Angela Merkel saat berbicara dalam pertemuan tertutup pada Senin (16/8) mengatakan bahwa pemerintah sedang berupaya membawa warga negaranya meninggalkan Afghanistan sesegera mungkin, menurut beberapa sumber di kalangan partai.

Tidak hanya warga negara Jerman, 10.000 warga Afghanistan --yang nasibnya terancam-- juga diupayakan untuk dibawa keluar dari negara itu, kata sumber-sumber tersebut.

Kepala badan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada Jumat meminta Taliban untuk menjaga kebebasan mengeluarkan pendapat, juga keselamatan para wartawan, seperti yang diamanatkan oleh aturan-aturan internasional.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Basket, Beladiri, Olympic
wwwwww