Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
14 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
18 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
14 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
16 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
20 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
12 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Ziarah ke Makam Tjut Nyak Dhien, LaNyalla Minta Masyarakat Tidak Lupakan Sejarah

Ziarah ke Makam Tjut Nyak Dhien, LaNyalla Minta Masyarakat Tidak Lupakan Sejarah
Ketua DPD RI berziarah ke Makam Tjut Nyak Dhien di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang, Sabtu (21/8/2021).
Sabtu, 21 Agustus 2021 19:20 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

SUMEDANG - Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (21/8/2021), Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyempatkan diri berziarah ke Makam Tjut Nyak Dhien, pejuang wanita asal Aceh.

Makam pahlawan nasional itu berada di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang.

"Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengingatkan agar jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Jasa pahlawan harus kita kenang dan ziarah ke makam Tjut Nyak Dhien ini sekaligus mengingat kembali perjuangannya berperang mengusir penjajah di tanah Aceh," kata LaNyalla.

Keberadaan Makam Tjut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959, setelah Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan, meminta untuk dilakukan pencariannya di Sumedang berdasarkan data Belanda.

Dalam dokumennya, Pemerintah Belanda hanya menyebut pada tahun 1906 ada satu tahanan politik perempuan Aceh yang dikirim ke Sumedang. Dia diasingkan bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana yang berusia 15 tahun.

Tjut Nyak Dhien menghabiskan dua tahun hidupnya di Sumedang. Pada 6 November 1908, Cut Nyak Dien wafat dalam usia 60 tahun.

Selama pengasingan Tjut Nyak Dhien mengisi waktunya dengan mengajar penduduk sekitar mengaji Al Quran. Hingga akhirnya penduduk Sumedang lebih mengenal Tjut Nyak Dhien dengan nama Ibu Prabu atau Ibu Suci.

Pada batu nisan makam Tjut Nyak Dhien, diketahui terangkum riwayat hidupnya, kemudian tertera juga surah at-Taubah dan al-Fajr, serta hikayat rakyat Aceh.

Tjut Nyak Dhien seorang diri memimpin perjuangan rakyat Aceh dalam melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Umar, wafat pada 1899. Pasukannya bergerilya di pedalaman Meulaboh.

Setelah bertahun-tahun berperang, dia tertangkap Belanda. Karena saat ditahan di Aceh masih berhubungan dengan pejuang lainnya, Tjut Nyak Dhien kemudian diasingkan ke Sumedang.***

wwwwww