Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
13 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
17 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
14 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
12 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
19 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Pimpinan DPD RI Minta Pemerintah Gerak Cepat Santuni Yatim Piatu Korban Pandemi

Pimpinan DPD RI Minta Pemerintah Gerak Cepat Santuni Yatim Piatu Korban Pandemi
Wakil Ketua DPD RI Sultan B Najamudin. (Foto: Istimewa)
Senin, 30 Agustus 2021 16:46 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) meminta pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat mengkonsolidasi data anak-anak kategori yatim dan bahkan yatim piatu terdampak pandemi Covid-19 dan kemudian segera memberikan perhatian khusus berupa santunan biaya hidup dan biaya sekolah.

"Pandemi menyisakan banyak anak-anak Indonesia kehilangan orang tua, baik Ayah, bahkan Ayah dan Ibu sekaligus. Tugas negara adalah memastikan Mereka tak kehilangan harapan dan masa depan," ungkap wakil ketua DPD RI Sultan B Najamudin di Jakarta pada Senin (30/8/2021).

Anak-anak, menurut Sultan, menjadi kelompok usia yang sangat rentan menjadi korban akibat suatu fase krisis, terutama oleh krisis sistematis dan berkepanjangan seperti pandemi Covid-19. Jangan sampai mereka kehilangan momentum pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental akibat dibiarkan terlalu lama.

"Tercatat, jumlah anak-anak yang kehilangan orang tua karena Pandemi mencapai 9 ribu anak lebih. Mereka terdiri dari anak yatim 4 ribuan anak, piatu 3 ribuan anak, yatim piatu 400-an anak, dan tanpa keterangan 300-an anak," ungkap Sultan mengutip data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerja sama dengan Unicef.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menertibkan akurasi data terlebih dahulu, sehingga tidak perlu terjadi kesalahan target menetapkan strategi pendekatan santunan dan tentunya diarahkan kepada kepastian dan efektifitas penggunaan anggaran secara sustainable.

"Kami meyakini bahwa, Suasana Kebatinan Anak-anak hari ini akan menjadi potret masa depan bangsa ini. Kita harus mengalihkan perhatian dan sumber daya khusus kepada anak-anak", kata mantan wakil Gubernur Bengkulu ini.

Pemerintah pusat dan daerah perlu membangun koordinasi dan melakukan kolaborasi anggaran dalam agenda pemulihan tekanan mental dan fisik anak-anak yang kehilangan orang tua akibat Pandemi covid ini. Ini fenomena kemanusiaan yang dapat mempengaruhi arah sejarah masa depan sebuah bangsa, maka harus ada keseriusan dari semua kita, termasuk masyarakat.

"Selain pemerintah, peran serta organisasi masyarakat keagamaan dan Yayasan sosial dan kemanusiaan juga lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga penting untuk turut gotong royong menyelamatkan anak-anak Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19. Pemerintah bisa berkolaborasi dengan yayasan sosial dan pendidikan.", ujarnya.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2021 tentang Perlindungan Khusus Bagi Anak. Dalam aturan tersebut juga tercantum mengenai perlindungan bagi anak yang menjadi korban bencana non alam berupa epidemi seperti virus corona (Covid-19).***

wwwwww